PANGKALPINANG | Titahnusa.com — HIMPUNAN Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) Kota Pangkalpinang menggelar kegiatan talk show bertajuk RUANG DISKUSI dengan tema “2025 Sampah Pangkalpinang Kemana?”, sebagai ruang terbuka untuk menguji visi dan komitmen para calon Wali Kota Pangkalpinang dalam menghadapi persoalan mendesak: krisis pengelolaan sampah.
Kegiatan ini diinisiasi oleh Bidang III – ESDM, Lingkungan Hidup, dan Kehutanan HIPMI Pangkalpinang sebagai bentuk keprihatinan terhadap kondisi TPA Parit Enam yang disebut-sebut hampir mencapai batas daya tampung maksimal.
“Acara ini adalah bentuk kepedulian dan kekhawatiran kami terhadap permasalahan sampah di Kota Pangkalpinang. Kami ingin para calon wali kota ke depan punya perhatian serius, bukan hanya menjadikannya isu musiman saat kampanye,” ungkap Ridho Ambari, Ketua Bidang III HIPMI Kota Pangkalpinang, Selasa (22/7/2025).

Ridho menjelaskan bahwa tagline “2025 Sampah Pangkalpinang Dibuang Kemana?” dipilih untuk menggugah kesadaran publik dan calon pemimpin bahwa permasalahan sampah tak bisa lagi ditunda. Menurutnya, Pangkalpinang membutuhkan terobosan nyata, bukan solusi tambal sulam.
“Sampah hari ini bukan sekadar urusan bau atau estetika kota. Ini krisis yang menyentuh soal kesehatan, lingkungan, dan tata kelola. Tapi di balik itu, sebenarnya ada peluang ekonomi besar,” jelasnya.
HIPMI juga melibatkan pihak-pihak yang aktif dalam pengelolaan limbah, seperti limbahpangkalpinang.id, guna mendorong sinergi antara pelaku usaha dan pemerintah kota dalam menciptakan sistem pengelolaan sampah yang modern dan produktif.
Eka Mulya Putra: Sampah Akan Jadi Sumber Pemasukan Daerah
Sebagai calon pertama yang diundang dalam diskusi ini, Eka Mulya Putra, calon wali kota jalur independen dari Paslon Merdeka, menyatakan bahwa isu sampah merupakan perhatian serius dalam visi misi mereka. Ia menegaskan bahwa tidak akan mungkin ditemukan solusi jika pemimpin daerah masih memandang sampah sebagai beban semata.
“Kalau seorang pemimpin masih menganggap sampah sebagai sumber masalah, bukan sebagai potensi pendapatan, maka selamanya tidak akan ada solusi,” tegas Eka dalam forum terbuka tersebut.
Eka memaparkan sejumlah strategi yang telah dirancang bersama timnya untuk mengelola sampah di Pangkalpinang, mulai dari sistem pemilahan sejak dari rumah tangga, kerja sama dengan pelaku usaha daur ulang, hingga optimalisasi teknologi pengolahan sampah yang ramah lingkungan.
“Sebelumnya saya sudah berkunjung dan belajar langsung dari pengelolaan sampah di Bandung, Tangerang Selatan, IKN, bahkan ke Singapura. Di sana, sampah bukan sekadar dibuang, tapi diolah menjadi energi dan pemasukan bagi daerah. Itu yang akan kami lakukan di Pangkalpinang jika diberikan amanah oleh masyarakat,” jelasnya.

Lebih lanjut, Eka menyatakan bahwa paslon Merdeka menjadikan isu sampah sebagai prioritas utama dalam program kerja mereka. Tidak hanya sebagai wacana kampanye, tetapi sebagai instrumen pembangunan yang berkelanjutan dan inklusif.
“Kalau kami dipercaya memimpin, kami pastikan sampah tak lagi jadi masalah tahunan. Kami ingin menjadikannya peluang. Pangkalpinang butuh cara baru melihat sampah, sebagai sumber daya yang memberi nilai, bukan hanya dibuang,” ujarnya.
Acara diskusi ini menjadi awal dari rangkaian dialog publik yang akan terus digelar HIPMI Pangkalpinang untuk memastikan bahwa isu lingkungan, khususnya sampah, tidak tertinggal dari percakapan politik menjelang Pilkada 2025.
Reporter: Redaksi TitahNusa
Editor: Zen Adebi













Komentar