Agus Puji Nilai Nuklir Bukan Opsi Darurat, Tapi Strategi Energi Masa Depan

- Redaksi

Jumat, 27 Februari 2026 - 12:06 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

🙏 Ayo Dukung Jurnalisme Kritis dan Obyektif

Caption : Dr Ir Agus Puji Prasetyono anggota Dewan Energi Nasional (DEN) Periode 2021-2025 saat menjadi narasumber diskusi publik, Aston Emidary Bangka Hotel Conference Center Pangkalpinang, Sabtu 7 Febuari 2026.

Caption : Dr Ir Agus Puji Prasetyono anggota Dewan Energi Nasional (DEN) Periode 2021-2025 saat menjadi narasumber diskusi publik, Aston Emidary Bangka Hotel Conference Center Pangkalpinang, Sabtu 7 Febuari 2026.

JAKARTA | TuahNews.com — RENCANA pemerintah untuk segera mengeksekusi pembangunan PLTN di Indonesia menuai beragam pendapat dari pakar energi. Anggota Dewan Energi Nasional 2021-2025, Agus Puji Prasetyono menilai rencana ini merupakan langkah penting dalam mencapai transisi energi di tanah air. Jum’at (27/2/2026)

“Konsumsi energi per kapita kita rendah. Ini menandakan sektor industri belum tumbuh optimal, dan elektrifikasi belum sepenuhnya merata,” kata Agus dalam paparannya pada agenda Diskusi Publik bertajuk Memahami Rencana Pembangunan PLTN di Pangkalpinang (7/2/2026).

Ia menegaskan bahwa persoalan energi nasional tidak semata berkaitan dengan kapasitas produksi, tetapi juga menyangkut ketimpangan akses. Hingga kini, masih terdapat wilayah terpencil dan kepulauan yang belum menikmati pasokan listrik secara memadai akibat keterbatasan infrastruktur dan aksesibilitas energi. Kondisi tersebut berpotensi memperlebar kesenjangan pembangunan antarwilayah jika tidak segera diatasi melalui kebijakan yang lebih progresif.

Masalah energi nasional kian kompleks ketika melihat laju pertumbuhan pembangkit listrik yang dinilai stagnan. Agus menyebut, Indonesia saat ini hanya mampu menambah kapasitas pembangkit sekitar 3–3,5 gigawatt (GW) per tahun. Angka tersebut dinilai jauh dari cukup untuk menopang pertumbuhan ekonomi, industrialisasi, serta lonjakan kebutuhan energi di masa depan.

Baca Juga :  Bukan Sekadar GBT! ALMASTER Desak Tricakti Buka Terang Barang Hasil Pengamanan, Gudang Titindo Kini Disorot

“Kalau kita ingin mengejar ketertinggalan, pertumbuhan pembangkit harus melonjak tiga sampai empat kali lipat, minimal 6–7 GW per tahun,” tegasnya.

Namun, menurut Agus, persoalan energi nasional tidak berhenti pada sisi pembangkitan. Ia juga mengkritisi kondisi sistem transmisi dan distribusi listrik yang belum memadai. Ketimpangan jaringan membuat pasokan listrik tidak merata, efisiensi sistem rendah, dan memperbesar jurang pembangunan antarwilayah. Tanpa penguatan jaringan, peningkatan kapasitas pembangkit dinilai tidak akan memberikan manfaat optimal.

Di sisi lain, Indonesia tengah didorong oleh target global untuk menurunkan emisi karbon. Transisi menuju energi bersih menjadi agenda yang tidak terelakkan. Namun Agus menilai, transisi energi masih menghadapi hambatan struktural. Energi baru dan terbarukan belum cukup stabil untuk menopang beban dasar (base load) sistem kelistrikan nasional, sementara ketergantungan pada energi fosil semakin berisiko dalam jangka panjang.

Baca Juga :  Guru Natsir Mengaku Pernah Ilegal, Lalu Bagaimana dengan yang Berlindung di Balik Label Legal?

Agus mengingatkan bahwa arah kebijakan pemerintah telah mengalami perubahan signifikan. Jika dalam Peraturan Pemerintah Nomor 79 Tahun 2014 tentang Kebijakan Energi Nasional (KEN) nuklir masih ditempatkan sebagai opsi terakhir, maka dalam PP Nomor 40 Tahun 2025 posisinya bergeser menjadi instrumen penting dalam menyeimbangkan sistem energi dan mencapai target dekarbonisasi.

“Ini perubahan paradigma. Nuklir bukan lagi pilihan darurat, tapi bagian dari solusi jangka panjang,” ujarnya.

Meski demikian, Agus menekankan bahwa pembangunan PLTN tidak dapat dipandang semata sebagai proyek fisik. Kesiapan sumber daya manusia menjadi faktor kunci yang menentukan keberhasilan atau kegagalan program nuklir nasional. Tanpa SDM yang kompeten, aman, dan tersertifikasi, teknologi secanggih apa pun menyimpan risiko tinggi dalam implementasinya.

“Ini bukan hanya soal energi, tapi juga pembangunan manusia. Tapi semua itu harus disiapkan sejak dini melalui pendidikan, pelatihan, dan regulasi yang konsisten,” tegas Agus. (*)

Follow WhatsApp Channel titahnusa.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Guru Natsir Mengaku Pernah Ilegal, Lalu Bagaimana dengan yang Berlindung di Balik Label Legal?
TOPAN-RI Tantang Bea Cukai Buka-bukaan Soal Gudang Tuatunu: Dari Jumlah Rokok hingga Status Perkara
Bukan Sekadar GBT! ALMASTER Desak Tricakti Buka Terang Barang Hasil Pengamanan, Gudang Titindo Kini Disorot
Rokok Ilegal Makin Marak di Babel, Benarkah Ada “Koordinasi” di Balik Pembiaran?
RUU Perampasan Aset dan Janji 15 Desember: Saat DPR Mempertaruhkan Marwahnya (Opini)
Ketua PJS Babel Agus Eko Sampaikan Ucapan Selamat atas Pelantikan Pengurus PWI Bangka Tengah
LSM FAKTA Bongkar Dugaan “Proyek Siluman” BWS Babel: Papan Informasi Tak Terpasang, Lumpur Kerukan Dipersoalkan
Kuota Timah Dicekik, Belitung Terancam Nol Royalti: LSM FAKTA Sorot Kepmen ESDM 157/2026

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊

Berita Terkait

Sabtu, 12 September 2026 - 18:48 WIB

Guru Natsir Mengaku Pernah Ilegal, Lalu Bagaimana dengan yang Berlindung di Balik Label Legal?

Selasa, 1 September 2026 - 15:41 WIB

TOPAN-RI Tantang Bea Cukai Buka-bukaan Soal Gudang Tuatunu: Dari Jumlah Rokok hingga Status Perkara

Senin, 31 Agustus 2026 - 16:10 WIB

Bukan Sekadar GBT! ALMASTER Desak Tricakti Buka Terang Barang Hasil Pengamanan, Gudang Titindo Kini Disorot

Senin, 31 Agustus 2026 - 07:35 WIB

Rokok Ilegal Makin Marak di Babel, Benarkah Ada “Koordinasi” di Balik Pembiaran?

Jumat, 28 Agustus 2026 - 12:15 WIB

RUU Perampasan Aset dan Janji 15 Desember: Saat DPR Mempertaruhkan Marwahnya (Opini)

Berita Terbaru