Dari Timah ke Nuklir: Mungkinkah Bangka Belitung Menjadi Pusat Energi Masa Depan Indonesia?

- Redaksi

Jumat, 5 Juni 2026 - 22:31 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

🙏 Ayo Dukung Jurnalisme Kritis dan Obyektif

Caption: ilustrasi

Caption: ilustrasi

Penulis: Revandi Antoni Kartono (Pimpred Journalarta Jejaring Media KBO Babel)

 

BANGKA BELITUNG | Titahnusa.com — BAYANGIN tahun 2060 Indonesia udah net zero emission. Pabrik jalan, AC rumah adem, tapi polusi udara udah berkurang drastis. Rahasianya apa? Salah satunya PLTN alias Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir.

Dulu denger kata “nuklir” kita langsung inget bom. Padahal buat listrik, nuklir itu kayak “kompor super hemat” yang bahan bakarnya kecil tapi panasnya bisa nyalain kota. Cocok tidak buat masa depan Indonesia?

Kenapa PLTN Masuk Rencana Masa Depan?

Pemerintah targetin net zero emission (NZE) 2060. Batu bara udah mulai dikurangin, Energi Baru Terbarukan (EBT) kayak matahari dan angin bagus tapi mendung dikit langsung drop. Nah PLTN ini punya 3 jurus:

1. Listriknya stabil 24 jam tidak kenal malam dan tidak kenal mendung. 1 gram uranium = tenaga setara 1 ton batu bara.
2. Emisi karbon hampir nol. Asapnya cuma uap air jadi tidak bikin bumi makin panas.
3. Lahannya hemat. PLTN 1000 MW cuma butuh lahan 1-2 km², sedangkan PLTS butuh 20x lipat buat daya yang sama.

Teknologi PLTN Generasi Baru 2030-2060

PLTN sekarang udah beda sama Chernobyl dan Fukushima dulu. Namanya SMR atau Small Modular Reactor. SMR memiliki keunggulan yakni ukuran mini segede lapangan bola dan bisa dibangun di daerah 3T. Kemudian anti meleleh karena sistem pendinginnya otomatis, mati listrik pun reaktor aman sendiri. Selain itu modularnya kayak lego, apabila butuh daya tambah tinggal pasang modul baru. Sistemnya otomatis mati sendiri kalau ada gempa/tsunami. Desainnya beda jauh sama reaktor tahun 1986. Plus lokasi PLTN Indonesia jauh dari sesar aktif.

Baca Juga :  Polemik Retribusi Pasar Pangkalpinang, Inspektorat Belum Terima Laporan

Limbah nuklir dibuang ke laut? Oh jelas tidak. Limbah padat disegel di drum baja + beton, terus disimpan 500 meter di bawah tanah batuan granit. Volumenya juga kecil, sedangkan sampah nuklir 60 tahun 1 PLTN cuma 1 lapangan basket.

Apakah tarif listrik PLTN mahal nggak? Awal bangun mahal, tapi operasional murah. Biaya pokok listrik PLTN = Rp800-1000/kWh. Lebih stabil dari batu bara yang harganya naik-turun.Diketahui, Indonesia sudah masukin PLTN ke RUPTL PLN 2021-2030. Rencananya 2032 PLTN pertama 500 MW mulai operasi di Kalimantan, sedangkan lokasi masih dikaji.

Tantangan yang Masih Harus Diberesin

Jujur saja, tidak ada yg sempurna. PLTN juga punya PR antara lain:
1. Limbah radioaktif : Tapi volumenya kecil banget. Limbah 60 tahun PLTN 1 GW cuma setinggi lapangan basket. Sekarang udah ada teknologi daur ulang plus penyimpanan geologi dalam.
2. Biaya awal gede : Bangunnya 5-7 tahun plus investasi triliunan. Tapi umur PLTN 60-80 tahun, jadi jangka panjang malah lebih murah.
3. Persepsi publik: Masih banyak yg takut. Makanya edukasi dan transparansi jadi kunci.

Baca Juga :  Febie Dwi Hartanto Resmi Pimpin Lapas Pangkalpinang, Siap Perkuat Keamanan dan Pembinaan

Indonesia Sudah Siap Belum ? Sudah siap kok. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) sudah riset nuklir 60 tahun. 3 lokasi calon PLTN udah dikaji yakni Kalimantan Barat, Bangka Belitung, dan Gorontalo. Ditambah lagi SDM-nya pun ada. Ribuan insinyur nuklir lulusan ITB, UGM, luar negeri sudah siap. Regulasi BAPETEN juga termasuk ketat se-ASEAN.

Masa Depan Listrik Kita

2025-2035 Fokus EBT + gas, 2035-2050 PLTN SMR mulai masuk buat ngurangin batu bara, dan 2050-2060 PLTN jadi tulang punggung bareng EBT buat capai net zero. Jadi nuklir bukan menggantikan matahari. Dia partner-nya. Matahari plus angin buat siang, PLTN buat malam plus industri berat.

Jadi intinya gini, energi nuklir untuk PLTN masa depan itu bukan “pilihan”, tapi “kebutuhan” kalau Indonesia mau listrik murah + bersih 2060. Takut nuklir wajar. Tapi takut tanpa data itu rugi. Mending kita kenalan dulu pelan-pelan.

Jadi PLTN pertama Indonesia bagusnya dibangun di Kalimantan atau Bangka Belitung? (*)

Follow WhatsApp Channel titahnusa.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Guru Natsir Mengaku Pernah Ilegal, Lalu Bagaimana dengan yang Berlindung di Balik Label Legal?
BWS Babel Diuji Transparansinya, TitahNusa.com Siapkan Sengketa Informasi
Polemik Retribusi Pasar Pangkalpinang, Inspektorat Belum Terima Laporan
Data Mitra dan SPK Diminta Tak Kunjung Dijawab, ALMASTER Babel Desak PT Timah Patuhi UU KIP
Timgab URC Polda Babel-Polres Bangka Tengah Tangkap Pelaku Penipuan Bermodus Ngaku Polisi
TOPAN-RI Tantang Bea Cukai Buka-bukaan Soal Gudang Tuatunu: Dari Jumlah Rokok hingga Status Perkara
Polres Bangka Barat Gagalkan Penyelundupan 15 Balok Timah Di Pelabuhan, Begini Modusnya
Bukan Sekadar GBT! ALMASTER Desak Tricakti Buka Terang Barang Hasil Pengamanan, Gudang Titindo Kini Disorot

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊

Berita Terkait

Sabtu, 12 September 2026 - 18:48 WIB

Guru Natsir Mengaku Pernah Ilegal, Lalu Bagaimana dengan yang Berlindung di Balik Label Legal?

Rabu, 9 September 2026 - 14:50 WIB

BWS Babel Diuji Transparansinya, TitahNusa.com Siapkan Sengketa Informasi

Sabtu, 5 September 2026 - 19:44 WIB

Polemik Retribusi Pasar Pangkalpinang, Inspektorat Belum Terima Laporan

Jumat, 4 September 2026 - 21:09 WIB

Data Mitra dan SPK Diminta Tak Kunjung Dijawab, ALMASTER Babel Desak PT Timah Patuhi UU KIP

Kamis, 3 September 2026 - 13:41 WIB

Timgab URC Polda Babel-Polres Bangka Tengah Tangkap Pelaku Penipuan Bermodus Ngaku Polisi

Berita Terbaru