Oleh: Muhamad Zen
“Amplop boleh masuk kantong, tapi suara tetap tinggal di hati.”
— Petuah baru warga Pangkalpinang
Waktu Pilkada, Kotak Kosong Menang
Pilkada 2024 di Pangkalpinang jadi cerita langka dan berani. Satu pasangan calon maju sendiri, tapi yang menang justru “kotak kosong”.
Itu bukan soal kurangnya pilihan, tapi pesan keras dari rakyat: mereka sudah muak dengan politik uang, pencitraan berlebih, dan gaya kepemimpinan yang merasa tak tergantikan.
Uang memang banyak beredar waktu itu—dari yang datang dini hari, hingga bantuan “mendadak hadir”. Tapi rakyat Pangkalpinang memilih dengan hati, bukan dengan isi amplop.
Kalau Calon Sudah Modal Besar di Awal, Rakyat Wajar Curiga
Kadang niat buruk sudah terlihat sejak awal. Ada calon yang mendapat rekomendasi partai dengan proses yang mahal dan berliku.
Rakyat jadi bertanya-tanya: kalau belum duduk saja sudah keluar uang besar, nanti pas menjabat, untuk siapa sebenarnya pengabdian itu?
Kita sudah sering lihat, proyek diatur-atur, jabatan dipakai sebagai “hadiah”, dan anggaran dipotong-potong seperti martabak spesial.
Korupsi sering kali bukan kebetulan. Ia datang dari jalan yang disiapkan sejak awal.
Gaya “Tobat Politik” yang Perlu Ditimbang Ulang
Kini di Pilkada 2025, muncul lagi wajah-wajah lama—tapi dengan kemasan baru. Ada yang tampil lebih kalem, lebih sederhana. Ada juga yang menyampaikan narasi perubahan:
“Saya sadar, dulu terlalu percaya diri. Sekarang saya lebih banyak belajar.”
Rakyat tentu bijak mendengar. Tapi warga juga tahu, berubah gaya belum tentu berubah watak.
Seperti orang tua bilang: “Kalau batuk, mudah diobati. Tapi kalau tabiat, susah nak berubah.”
Cerita Lama yang Masih Bersisa
Ada pula yang dulu pernah duduk di posisi penting di sebuah badan usaha milik daerah. Kini maju lagi, tapi jejak lama belum seluruhnya selesai dipertanggungjawabkan.
Rakyat tentu berharap, semua yang maju sudah tuntas urus masa lalunya, agar tak menyisakan beban untuk masa depan kota.
Pencitraan Rakyat Kecil, Tapi Gaya Tetap Sultan
Ada juga yang tampil seolah dari kalangan sederhana, mengaku punya latar belakang rakyat biasa. Tapi kenyataan di lapangan, gaya hidupnya masih bergaya “kelas atas”.
Mobil mewah, pengawalan penuh, baliho berjejer di setiap sudut kota—lengkap dengan ukuran jumbo yang sulit dilewatkan mata.
Tak salah tampil meyakinkan. Tapi warga Pangkalpinang sudah jeli membedakan mana yang tulus, mana yang hanya bungkus.
Rakyat Sudah Tahu Polanya
Untuk semua calon yang masih percaya politik uang akan berhasil, ini pesannya:
1.Kalau ada yang ngasih, ya terima saja—namanya juga rezeki.
2.Tapi waktu nyoblos, suara tetap ikut kata hati.
3.Foto bareng boleh, kaos dibagi oke, tapi jangan mimpi suara bisa dibeli.
Rakyat sekarang sudah paham dan mandiri. Mereka ingin pemimpin yang jujur, bukan yang hanya pintar bersolek.
Pilkada Bukan Lelang, Suara Tak Dijual Kiloan
Pilkada itu soal harapan, bukan pasar gelap. Suara rakyat bukan komoditas yang bisa ditawar.
Kalau ada yang dari awal sudah sibuk “investasi politik”, maka wajar jika publik khawatir—apakah saat menang nanti, rakyat akan tetap jadi prioritas, atau hanya jadi penonton?
Pilih yang Punya Jejak, Bukan Sekadar Gaya
Pangkalpinang ini milik bersama. Jangan serahkan nasib kota ke tangan orang yang hanya pandai menampilkan pencitraan.
Pilih mereka yang punya rekam jejak bersih, pernah bekerja nyata, dan mau mendengar rakyat.
Karena lima menit di bilik suara, akan menentukan lima tahun nasib daerah.
Tentang Penulis
Muhamad Zen — Wartawan yang mengaku lulusan Universitas Gunung Maras (UGM), Fakultas Ilmu Politik Perkeliruan. Kampusnya tak masuk Dikti, tapi warung kopi jadi tempat diskusi paling aktif.
Riset lapangannya? Di warkop terdekat, di balik baliho, dan di status-status warga. Hobinya? Membedah amplop politik dan mengisi ulang logika publik.
————————————————-
Catatan Redaksi
Tulisan ini adalah opini pribadi penulis. Jika ada pihak merasa perlu memberikan klarifikasi, hak jawab terbuka sebagaimana diatur dalam UU No. 40 Tahun 1999 tentang Pers.
Silakan hubungi redaksi tanpa syarat. Kami siap menampung suara, tanpa pungutan, apalagi amplop.













Komentar