Sebuah Catatan Satir dari Negeri Pinang Serumpun
Oleh: Prof. (Keliru) Muhamad Zen
Guru Besar Universitas Gunung Maras (UGM)
—————–
KONON, di sebuah kerajaan kecil di bibir timur Samudera, bernama Kerajaan Pinang Serumpun, hidup rakyat yang ramah, makmur dari hasil bumi, dan pandai menertawakan nasib sendiri. Kerajaan itu terkenal dengan pertanian, perikanan, dan tambangnya yang berlimpah. Namun di atas semua itu, yang paling menarik adalah politiknya yang selalu hangat seperti kopi di pagi hari dan gosip di sore hari.
Di negeri ini, pernah tersiar kisah yang kini menjadi legenda di warung kopi: kisah sepasang insan politik yang menikah bukan karena cinta, melainkan karena syarat menuju singgasana kekuasaan.
Sebuah kisah yang layak dijadikan sinetron berjudul: âCinta dalam Mahar Kekuasaan.â
Bab I: Lamaran Demi Tahta
Alkisah, seorang calon pengantin pria yang berambisi besar ingin naik pelaminan demokrasi dan menjadi Raja. Namun, aturan kerajaan mengharuskan ia memiliki pasangan untuk melengkapi citra âserasi dan harmonisâ di hadapan rakyat. Maka berkelanalah ia ke negeri seberang, mencari pasangan, bukan untuk hati, tapi untuk surat pencalonan.
Di sanalah ia bertemu calon pengantin perempuan, sosok yang tak kalah lihai.
Ia bukan perempuan sembarangan. Ibarat aktor kawakan di panggung sandiwara kerajaan, ia hafal setiap naskah kekuasaan dan punya kenalan di kalangan para sutradara besar di Istana Raya.
Lamaran pun berlangsung meriah. Namun sebagaimana adat di negeri Pinang Serumpun, lamaran tak cukup dengan janji dan senyum manis. Harus ada mahar, bukan berupa cincin atau kain songket, melainkan berupa angka kesepakatan politik yang tak tertulis tapi sangat dimengerti.
Sang calon perempuan pun tersenyum manis dan menerima lamaran, dengan satu syarat: mahar harus diserahkan sebelum pesta kekuasaan diumumkan. Sang calon pria pun mengangguk, yakin bisa menepati janji, atau sekadar percaya bahwa âsemua bisa diatur belakanganâ.
Bab II: Mahar yang Tertunda
Hari berganti minggu, namun mahar tak kunjung datang. Sang perempuan mulai gelisah. Dalam kegalauan itu, datanglah kabar dari calon lain yang menawarkan mahar lebih besar jika ia mau membatalkan lamaran.
Bimbang pun melanda. Namun sebelum surat pembatalan sampai ke KUA politik, sang calon pria mendengar kabar itu.
Panik, ia segera menyerahkan sebagian mahar, sebagian tunai, sebagian janji, sebagian doa, dengan wajah berkeringat dan hati separuh kecewa.
Bab III: Pelaminan Kekuasaan
Pesta demokrasi pun tiba. Mereka tampil di panggung kekuasaan bak pasangan ideal: tersenyum di depan rakyat, saling menyuapi visi dan misi, dan berjanji tak akan berselisih, setidaknya di depan kamera.
Rakyat pun bersorak, mengira cinta mereka tulus, padahal itu hanyalah cinta dalam kontrak politik.
Namun seperti banyak pernikahan yang dibangun atas mufakat, bukan perasaan, kebahagiaan itu tak bertahan lama.
Begitu mahligai kekuasaan berdiri, sang Raja mulai berhitung: berapa yang sudah keluar, dan berapa yang harus kembali, tentu dengan bunga kekuasaan.
Sementara itu, sang Ratu yang juga bukan pemain baru, mulai memainkan perannya sendiri. Ia bukan sekadar pelengkap di pelaminan kekuasaan. Ibarat aktris cerdas, ia tahu kapan harus tersenyum dan kapan harus menyusun koalisi baru.
Kabarnya, sang Ratu telah membentuk lingkaran dalam, mengumpulkan tokoh-tokoh berpengaruh untuk menulis naskah baru, mungkin berjudul âPelaminan Jilid Dua.â
Bab IV: Bara di Balik Singgasana
Konflik pun meletup di istana. Isu-isu digoreng di dapur politik, aroma gosip menyeruak ke warung rakyat, dan para perantara sibuk meniup bara. Ironisnya, sang Raja tampil sebagai penengah, seolah pahlawan yang memadamkan api, padahal korek api pertama justru miliknya sendiri.
Rakyat hanya bisa tertawa getir. Sebagian kagum pada kemampuan mereka berakting, sebagian lagi lelah menjadi penonton setia.
Namun pepatah lama tetap berlaku di negeri Pinang Serumpun:
âKalau dua sejoli berseteru, jangan ikut campur, nanti dikira ingin jadi pengantin ketiga.â
Bab V: Panggung Baru, Cerita Lama
Kabar berembus dari Istana Raya: konon, sang Raja akan segera diperiksa oleh utusan pengawas kerajaan. Laporan telah masuk dari organisasi di ibu kota, dan rakyat pun menunggu apakah ini babak akhir dari drama dua sejoli ini, atau justru awal dari season baru yang lebih seru dari sebelumnya.
Sementara itu, rakyat tetap seperti biasa,
menyesap kopi, menertawakan nasib, dan membiarkan kisah ini bergulir seperti sandiwara kerajaan yang tak pernah tamat.
Rakyat sesungguhnya sudah tahu arah kisahnya: kerajaan ini tampaknya hanya berjalan di tempat. Tapi biarlah, asal jangan sampai merusak. Yang dikhawatirkan justru ketika sudah âjalan di tempatâ tapi merusak pula. Apalagi kalau mulai âmaju jalanâ, bisa-bisa kerusakan ikut berlari lebih cepat dari akal sehat.
Bab VI: Hikmah dari Panggung Kekuasaan
Sejarah sudah banyak menulis kisah serupa:
Kerajaan Romawi Barat runtuh karena korupsi dan perebutan kekuasaan.
Majapahit hancur karena perang saudara antar keluarga sendiri. Kerajaan Ottoman melemah karena intrik dan ambisi para pangeran.
Semua menunjukkan hal yang sama:
Ketika orang-orang di puncak sibuk berebut panggung, panggung itu sendiri akhirnya runtuh.
Konflik internal adalah bencana yang mengenakan jubah kemegahan.
Kepemimpinan sejati bukan sekadar tersenyum di depan rakyat, tetapi mampu menahan ego di balik tirai istana.
Dan akhirnya, sejarah dan kenyataan pun berbisik lembut dari sela-sela tembok kerajaan:
âCinta boleh pudar, janji bisa retak…
Tapi kekuasaan……..ah, selalu menggoda untuk dinikahi, lagi dan lagi.â
Catatan Penulis:
Tulisan ini adalah karya satir politik fiksi.
Setiap nama, tempat, atau peristiwa yang disebut hanyalah simbolis, bukan merujuk pada individu atau institusi nyata mana pun. Jika pembaca merasa menemukan kesamaan, biarlah itu menjadi kebetulan yang terlalu serius untuk ditertawakan.













Komentar