Republik Foto Keluarga

- Redaksi

Jumat, 14 November 2025 - 11:56 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Penulis oleh: Prof (keliru) Muhamad Zen, Guru Besar Universitas Gunung Maras

 

Caption satir & pertanyaan untuk pembaca

Apa tanggapan Anda terhadap spanduk resmi Pemerintah Kota Pangkalpinang ini?
Sebuah spanduk acara resmi pemerintah, yang seharusnya menampilkan pejabat sesuai aturan protokoler negara, tiba-tiba berubah menjadi poster keluarga besar penguasa.

Foto Walikota berdampingan dengan istrinya, seolah beliau adalah “Wakil Walikota versi domestik”.
Foto Wakil Walikota tergeser posisinya, seperti tokoh figuran dalam drama keluarga.
Kepala Dinas pun membawa istri ikut tampil, lengkap seperti bonus paket beli satu gratis satu.

Jadi pertanyaannya, pembaca yang budiman:

Apakah ini Pemerintah Kota Pangkalpinang sedang menggelar kegiatan resmi negara…
atau launching sinetron bertajuk “Keluarga Dalam Lingkar Kekuasaan”?

Apakah wajar istri pejabat tampil berdampingan dalam spanduk resmi?
Apakah pantas struktur protokoler negara dikalahkan oleh struktur rumah tangga?
Atau… apakah ini sekadar gaya baru birokrasi: nepotisme visual bersponsor APBD?

Silakan pembaca menilai sendiri:
Negara sedang bekerja, atau keluarga sedang tampil?

“Ah, akhirnya pemerintah kita menemukan inovasi baru: pemerintahan keluarga inti plus minus!”
Begitu kira-kira gumam salah satu warga sambil memandang spanduk tersebut.

Karena dalam acara resmi pemerintah, warganya tentu berharap melihat struktur kepemimpinan daerah: Walikota, Wakil Walikota, Kepala Dinas bukan plus-one mereka yang tidak memiliki mandat, jabatan, atau kewenangan publik.

Tapi spanduk itu punya logikanya sendiri.
Logika baru hasil kreativitas pejabat yang mungkin berpikir:

“Kalau rakyat harus tahu siapa pemimpinnya, ya wajar dong mereka juga harus tahu siapa pasangan pemimpinnya. Namanya juga transparansi keluarga.”

Namun rakyat membaca lain.
Rakyat melihat ini sebagai pertunjukan:

Ada Walikota → ada istri Walikota.

Ada Kadis → ada istri Kadis.

Ada pejabat → ada permaisuri.

Yang pejabat perempuan pun, entah bagaimana, mungkin nanti akan dipasangkan fotonya dengan suaminya juga demi “keserasian visual”.

Semuanya rapi, simetris… kecuali soal aturan protokoler, etika pemerintahan, dan akal sehat, yang tampaknya sengaja dikesampingkan agar foto-foto itu tetap kompak seperti keluarga sinetron.

Padahal publik paham, dan aturan pun jelas:
istri pejabat bukan pejabat, kecuali dalam kegiatan PKK atau kegiatan khusus lain yang memang mengundang peran mereka.
Bukan dalam acara resmi pemerintah bernuansa kedinasan.

Tapi siapa peduli?
Yang penting panggungnya ramai.
Yang penting terlihat harmonis.
Yang penting semua dapat jatah tampil.
Publik? Ah, publik kan hanya penonton.

Dan akhirnya, seorang pembaca lain menutup komentarnya dengan kalimat yang paling satir namun paling jujur:

“Terima kasih, Pemerintah Kota Pangkalpinang. Baru kali ini kami melihat birokrasi dibangun dengan konsep Kementerian Dalam Rumah Tangga.”

Begitulah kira-kira pementasan spanduk hari ini. Sebuah karya seni instalasi keluarga pejabat dipampang di acara resmi pemerintah, dengan bangga, tanpa malu, tanpa ragu, dan tentu saja… tanpa dasar aturan yang mendukungnya.

 

_____________________

Catatan Redaksi:

Isi narasi opini ini sepenuhnya menjadi tanggungjawab penulis. Apabila ada pihak yang merasa dirugikan atau keberatan atas penyajian artikel ini, Anda dapat mengirimkan artikel atau berita sanggahan/koreksi kepada Redaksi kami, sebagaimana diatur dalam pasal 1 ayat (11) dan (12) Undang-undang No 40 Tahun 1999 tentang Pers.
Sanggahan dapat dikirimkan melalui email atau nomor whatsapp Redaksi sebagaimana yang tertera pada box Redaksi.

Berita Terkait

BMPBB: GAGALKAN PENYELUNDUPAN 15 TON TIMAH ILEGAL, DESAK APARAT KEJAR BANDAR DAN JEBOL JARINGAN LAMA DI PANGKALBALAM
Aswadi SH Pertanyakan Peran Bang Doi, Minta Ditkrimsus Polda Babel Dalami Dugaan Keterlibatan
Kuasa Hukum Toko Mas Gunung Kawi Buka Suara: Dukung Penyelidikan Polda Babel, Bantah Laporan Neli dan Ungkap Versi Soal Kompensasi
Kesadaran Hukum Anak SMA di Ruang Siber: Transformasi Pendidikan Kewarganegaraan di Era Digital
Agung Nugroho Nilai Pemberitaan Terkait Tin Slag Belum Berimbang, Siapkan Langkah Hukum
Kesaksian Neli: Dugaan Emas Tak Sesuai Kadar hingga Proses yang Kini Diselidiki Polda Babel
Resmi! PLTN Masuk RUPTL Nasional, Indonesia Bersiap Menyambut Era Energi Nuklir
Cegah Sengketa Informasi Publik, KI Babel dan BPOM Pangkalpinang Perkuat Sinergi Tata Kelola Informasi

Berita Terkait

Kamis, 30 Juli 2026 - 18:47 WIB

BMPBB: GAGALKAN PENYELUNDUPAN 15 TON TIMAH ILEGAL, DESAK APARAT KEJAR BANDAR DAN JEBOL JARINGAN LAMA DI PANGKALBALAM

Kamis, 30 Juli 2026 - 11:09 WIB

Aswadi SH Pertanyakan Peran Bang Doi, Minta Ditkrimsus Polda Babel Dalami Dugaan Keterlibatan

Senin, 27 Juli 2026 - 17:53 WIB

Kuasa Hukum Toko Mas Gunung Kawi Buka Suara: Dukung Penyelidikan Polda Babel, Bantah Laporan Neli dan Ungkap Versi Soal Kompensasi

Minggu, 26 Juli 2026 - 22:12 WIB

Kesadaran Hukum Anak SMA di Ruang Siber: Transformasi Pendidikan Kewarganegaraan di Era Digital

Minggu, 26 Juli 2026 - 10:47 WIB

Agung Nugroho Nilai Pemberitaan Terkait Tin Slag Belum Berimbang, Siapkan Langkah Hukum

Berita Terbaru

Bangka Belitung

PENOLAKAN HGU PT GML MENGUAT

Jumat, 31 Jul 2026 - 08:45 WIB

Jakarta

Nuklir dan Hidrogen Siap Menopang Ketahanan Energi Nasional

Kamis, 30 Jul 2026 - 13:23 WIB