Karya: Muhamad Zen
Alumni Universitas Gunung Maras – Fakultas Teknik Perkeliruan
DI negeri ini ada satu keajaiban yang tidak ditemukan dalam buku fisika, tidak tercatat dalam silabus ilmu pemerintahan, dan tidak diajarkan di fakultas mana pun kecuali satu: Fakultas Teknik Perkeliruan.
Di fakultas imajiner itu lahir para ahli yang mampu mengubah kekeliruan menjadi kebenaran, lebih cepat daripada BBM menghilang dari SPBU.
Anehnya, dalam realitas kepemimpinan hari ini, kekeliruan bukan lagi gangguan yang harus diperbaiki. Ia justru disambut, dirayakan, dipoles rapi, dan akhirnya mendapat pangkat baru: “kebenaran versi pejabat.”
Pengulangan demi pengulangan dilakukan dengan penuh keyakinan, hingga masyarakat mulai bingung sendiri:
mana yang benar fakta, atau narasi yang terus dijahit ulang sampai publik menyerah?
Dan di tengah kekacauan logika ini, muncul satu pertanyaan yang tidak kalah pentingnya:
Apakah pemimpin kita yang keliru, atau justru kita yang keliru memilih pemimpin?
Sebab sebelum memegang jabatan, semua orang tahu latar belakang sang pemimpin.
Kita tahu asal-usulnya, cara berpikirnya, hingga kebiasaannya dalam berkeliru.
Bahkan boleh dikatakan tanpa perlu basa-basi, ia adalah “Rajanya Para Keliru.”
Namun setelah seseorang duduk di kursi kekuasaan, tiba-tiba seluruh kekeliruannya dianggap wajar, semua kebijakannya harus dipuji, dan kalau ada yang keliru, yang salah bukan keputusannya, tetapi mereka yang mengkritik.
Pemimpin tidak lagi sibuk mencari solusi,
mereka hanya perlu mengulang kalimat yang sama sampai telinga masyarakat terhipnotis. Sebuah ritual komunikasi yang lama-lama meninabobokan logika.
Dan di sinilah tragedi dimulai:
kekeliruan yang diulang terus-menerus naik kelas menjadi kebenaran, sementara kebenaran yang disampaikan pelan dan hati-hati dituduh sebagai pengacau suasana dan perusak panggung.
Lebih parahnya lagi, banyak yang sebenarnya tahu mana yang benar dan mana yang keliru, namun memilih diam demi satu alasan sederhana:
takut dicap tidak mendukung kebijakan, dan yang lebih penting, mengamankan posisi.
Maka kepemimpinan pun berubah orientasi:
bukan pada kerja, bukan pada hasil, tetapi pada kemampuan memoles keliru agar tampak benar. Dan ketika cukup banyak orang ikut mengangguk, lahirlah apa yang mereka sebut sebagai “kebenaran baru.”
Sebagai alumni Universitas Gunung Maras,
saya hanya bisa tersenyum getir melihat fenomena ini. Dalam ilmu perkeliruan, ada satu rumus sederhana:
Kekeliruan yang diulang-ulang akan naik jabatan menjadi kebenaran. Kebenaran yang tidak dibela akan dituduh sebagai kegaduhan.
Ironinya belum selesai.
Sebab ketika kekeliruan resmi dinobatkan sebagai “kebenaran,” yang sebenarnya keliru bukan hanya mereka yang menciptakannya, tetapi juga mereka yang tahu itu keliru namun tetap ikut membenarkan demi jabatan, demi kenyamanan, demi bertahan.
Kini yang keliru dipuja, yang benar dicurigai, yang kritis ditegur, dan yang pasrah justru dianggap paling bijaksana.
Kita hidup dalam realitas aneh:
kebenaran harus antre panjang,
sementara kekeliruan mendapat jalur cepat
seperti pejabat lewat pintu VIP bandara.
Sampai hari itu tiba, hari ketika kebenaran berani kembali mengambil tempatnya,
izinkan saya, sebagai lulusan Fakultas Teknik Perkeliruan, mengajak seluruh warga negeri:
Mari kita keliru bareng-bareng,
agar kita tahu siapa saja yang selama ini tampak benar, padahal hanya terbantu oleh banyaknya orang yang ikut mengamini kekeliruan mereka.
Karena sesungguhnya, yang paling menakutkan bukanlah kekeliruan itu sendiri, melainkan ketika kekeliruan itu dipromosikan menjadi kebenaran resmi negara.













