Opini Oleh: Muhamad Zen
Alumni Universitas Gunung Maras
ADA satu percakapan ringan di warkop yang membuat saya berpikir panjang.
Seorang sahabat menepuk bahu saya sambil berkata,
âZen, kalau kau terus menulis sebagai sarjana keliru Universitas Gunung Maras, nanti orang percaya sungguhan bahwa kau memang keliru.â
Ucapan itu terdengar bercanda, tapi ada nada serius yang sulit diabaikan. Katanya lagi, hati-hati dengan kata-kata, karena apa yang kita ulang-ulang bisa membentuk citra dan citra itu kelak menuntut pertanggungjawaban.
Saya pulang dengan pikiran yang masih berputar.
Keliru, Salah, dan Benar
Saya memakai kata keliru bukan untuk lucu-lucuan atau sensasi. Saya memakai kata itu karena memang itulah gambaran jujur dari keadaan sosial kita sekarang:
yang benar sering disudutkan, yang salah disamarkan, dan yang mencoba bicara jujur dianggap mengganggu ketertiban versi mereka yang sedang berkuasa.
Mari kita luruskan dulu tiga kata yang sering dipelintir:
Keliru terjadi karena salah paham, salah tafsir, atau kurang informasi tanpa niat buruk. Contoh ringan dalam dunia jurnalistik: wartawan menulis nama narasumber âArifinâ menjadi âAripinâ karena salah dengar.
Namun keliru bisa berdampak lebih besar. Misalnya seorang pengacara salah menafsirkan pasal hukum sehingga memberikan nasihat yang keliru kepada klien. Dampaknya tidak ringan bisa berujung pada kerugian materi atau reputasi.
Salah bisa lahir dari dua kemungkinan: khilaf atau sengaja.
Contoh khilaf: lupa mematikan kompor, salah menghitung nilai ujian siswa, atau salah input data yang akhirnya menimbulkan kerugian.
Contoh sengaja: memalsukan data, menandatangani dokumen proyek fiktif untuk mengalihkan dana negara ke rekening pribadi, korupsi. Ini jelas menimbulkan konsekuensi hukum dan moral.
Kasus Bank Sumsel Babel misalnya, Dana 2,1T rupiah disebut âsalah entriâ. Katanya bukan rekening Pemprov Babel tapi rekening Pemprov Sumsel. Sampai kini, Sumsel sendiri belum pernah memberikan klarifikasi resmi. Jadi, apakah ini benar-benar keliru karena human error, atau ada yang sengaja bermain? Saya tak berani menyimpulkan, silakan pembaca menilai sendiri.
Benar tetap benar, meski keberadaannya tidak menyenangkan bagi sebagian orang.
Yang menarik adalah, jika keliru terjadi di ranah publik, apalagi melibatkan nominal besar, dampaknya bisa menurunkan kepercayaan publik dan reputasi institusi bisa runtuh sebelum faktanya jelas.
Sayangnya, dalam praktik sosial kita, batas itu sering dibuat kabur. Kesalahan yang jelas dibungkus istilah âkekeliruan teknisâ, sementara orang yang berkata benar dicap âkeliru membaca situasiâ. Bahasa dipelintir, hukum ikut terancam, dan akal sehat terkadang tersisih.
Satir: Cara Bertahan di Tengah Ketidakwarasan
Sahabat saya berpesan:
âJangan menertawakan kebenaran, Zen. Itu sama saja menertawakan dirimu sendiri.â
Saya setuju.
Saya tidak menertawakan kebenaran.
Yang saya tertawakan adalah keadaanâkeadaan yang memaksa kebenaran terlihat keliru, dan kesalahan tampak bisa dimaklumi. Kalau kita tidak menertawakannya sedikit, bisa-bisa kita stres melihat hal-hal yang semakin jauh dari nalar.
Contohnya:
Proyek yang tidak transparan disebut mis-komunikasi.
Warga yang mempertanyakan haknya dianggap keliru memahami aturan.
Wartawan yang menulis fakta dituding keliru membaca situasi politik.
Semua diberi label keliru, agar kita berhenti bertanya: siapa yang sebenarnya salah?
Yang Keliru Jangan Jadi Kebiasaan, Yang Salah Jangan Jadi Budaya
Saya menulis bukan untuk tampak pintar atau mengajak orang âkeliru bersama-samaâ. Saya menulis karena ada keresahan yang tidak boleh didiamkan. Diam itu nyaman tapi bukan jalan keluar dan pilihan yang bertanggung jawab.
Ada batas yang harus dijaga:
Yang keliru jangan dibiarkan menjadi kebiasaan.
Yang salah jangan dipoles menjadi keliru.
Yang benar jangan disingkirkan hanya karena mengganggu kenyamanan segelintir orang.
Saya tidak selalu benar. Tidak ada manusia yang selalu benar.
Tapi saya menolak hidup dalam tatanan yang sengaja mengaburkan makna hanya demi mempertahankan narasi para pemegang kuasa.
Selama itu masih terjadi, saya akan terus menulis, sederhana, satir, dan apa adanya agar kita tidak tenggelam dalam permainan kata yang menyesatkan.
Jika suatu hari keadaan membaik, mungkin saya tidak perlu lagi memakai gelar sarjana keliru. Tapi hari itu belum tiba.
Untuk sekarang, biarlah istilah itu menjadi cermin kecil bahwa ada sesuatu yang memang sedang tidak beres.
Dan selama kita masih mampu membedakan mana keliru, mana salah, dan mana benar, berarti kita masih punya harapan untuk tidak hilang arah.













Komentar