HIV Terus Naik, Pendidikan Masih Mau Diam?

- Redaksi

Jumat, 16 Januari 2026 - 08:17 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Kisah Pangkalpinang, Angka yang Bicara, dan Nilai yang Terlupa

 

Oleh: Muhamad Zen
Wartawan & Pemerhati Kebijakan Publik
Alumni Universitas Gunung Maras

 

TULISAN ini disusun berdasarkan rangkuman pemberitaan media serta informasi resmi sektor kesehatan, sebagai catatan kebijakan publik dan kepentingan masyarakat, bukan tudingan terhadap individu, sekolah, maupun lembaga tertentu.

Di sebuah kota yang setiap pagi sibuk dengan apel, rapat, dan absensi, ada satu hal yang jarang benar-benar disimak: angka yang pelan-pelan naik tanpa suara tepuk tangan. Angka itu bernama HIV. Ia tidak datang dengan sirene, tidak pula meminta baliho. Ia hanya hadir setia dalam laporan tahunan dan sering kali selesai dibaca sebelum kopi di meja dingin.

Kota itu bernama Pangkalpinang, ibu kota provinsi. Kota yang seharusnya menjadi contoh, bukan sekadar cerita pengantar. Tapi justru dari kota inilah, alarm kecil itu mulai berbunyi. Masalahnya, bunyinya tidak keras. Dan kita—entah karena sibuk atau nyaman memilih tidak menoleh.

Sementara sektor kesehatan sibuk mencatat angka, dunia pendidikan berjalan pelan, nyaris santai. Kalau boleh bercanda sedikit, tentu dengan rasa pahit, HIV lari cepat, pendidikan masih pemanasan. Padahal, ini bukan lomba lari. Ini soal masa depan generasi.

Angka yang Tidak Pernah Bercanda

Data Dinas Kesehatan Kota Pangkalpinang mencatat, pada tahun 2025 ditemukan 133 kasus HIV baru. Perlu digarisbawahi sejak awal agar tidak salah paham di tengah jalan: ini bukan akumulasi, ini temuan baru dalam satu tahun.

Caption: Data Kasus HIV Kota Pangkalpinang dari tahun 2021 s/d 2025

Jika angka-angka itu disusun berdasarkan usia, ceritanya menjadi lebih serius: usia 15–19 tahun tercatat 8 kasus,usia 20–24 tahun melonjak menjadi 40 kasus, dan usia 25–49 tahun memimpin dengan 75 kasus.

Urutan ini seperti menunjuk tanpa jari: kelompok 20–24 tahun—usia pelajar akhir dan mahasiswa—berada di posisi kedua tertinggi. Ini bukan cerita moral, apalagi vonis. Ini sinyal bahwa ada fase usia yang berjalan tanpa pagar nilai yang cukup kokoh.

Gunung Es Bernama Data

Namun di titik ini, ada satu hal penting yang sering luput. Data resmi hanyalah yang terdeteksi. Dalam dunia kesehatan masyarakat, angka yang tercatat sering kali hanyalah puncak gunung es. Yang tidak tercatat karena tidak tes, tidak tahu, atau takut, bisa saja lebih banyak dari yang kita bayangkan.

Mari kita bercanda sebentar, tapi serius:
pada tahun 2024, Pangkalpinang mencatat 121 kasus HIV baru. Pertanyaannya bukan sekadar “ketemu berapa”, tapi:

– berapa yang berhasil pulih secara klinis?

– berapa yang masih hidup dengan HIV hari ini?

– dan jika 121 kasus (2024) digabung dengan 133 kasus (2025), lalu ditambah yang belum terdeteksi, kira-kira berapa orang di kota ini yang sedang hidup berdampingan dengan virus itu?

Kalau ini soal matematika, mungkin bisa dihitung. Tapi karena ini soal manusia, jawabannya seharusnya membuat kita berhenti sejenak dan menelan ludah.

Sekolah yang Sunyi

Di sisi lain, sekolah dan kampus memilih jalur senyap. Ketika ada dinamika, diselesaikan secara internal. Konseling, pembinaan, pemanggilan orang tua. Semua rapi, semua tertutup. Ini penting, tentu. Anak-anak harus dilindungi.

Namun ketika pola muncul berulang, kesunyian justru berubah menjadi kebiasaan. Pendidikan seolah berkata, “Ini urusan internal.” Padahal dampaknya sudah menjadi urusan publik.

Sementara itu, sektor kesehatan bekerja jujur dengan angka. Pendidikan masih sibuk dengan nilai rapor, kelulusan, dan tumpukan administrasi. Budaya dan akhlak cukup dijadikan tema upacara. Guru lelah dengan laporan, konselor terbatas, orang tua sering datang setelah masalah lewat, sementara pergaulan dan gawai bekerja tanpa jam kerja.

Paradoks yang Terasa

Di sinilah paradoks itu terasa di ulu hati: angka administratif naik, tragedi sosial ikut naik.

Intervensi medis penting, tapi ia baru pembuka. Ia menyembuhkan, bukan mencegah sepenuhnya. Yang dibutuhkan adalah keberanian kebijakan yang menyentuh akar nilai radikal bukan dalam arti keras, tapi preventif dan jujur.

Sebagai alumni Universitas Gunung Maras, saya percaya kebudayaan bukan aksesoris seminar. Ia adalah tulang punggung nilai. Budaya lokal, agama, dan kearifan sosial seharusnya menjadi energi pencegahan, bukan sekadar pengisi acara seremonial yang selesai bersamaan dengan konsumsi.

Alarm dari Ibu Kota

Pangkalpinang hanyalah satu kota. Tapi karena ia ibu kota provinsi, ia adalah contoh kecil dari kemungkinan yang lebih besar. Jika di kota saja angkanya sudah begini, publik wajar bertanya: bagaimana jika dibuka di skala provinsi?

Dalam urusan masa depan generasi, diam bukan sikap netral. Diam adalah pilihan. Dan setiap pilihan, cepat atau lambat, akan meminta jawaban—bukan lewat rapat, tapi lewat kenyataan.

Berita Terkait

PENOLAKAN HGU PT GML MENGUAT
KI Babel Uji Komitmen Keterbukaan Informasi, Bawaslu dan Pemkab Bangka Jalani Visitasi Faktual E-Monev 2026
DPRD Babel Soroti Akuntabilitas BUMD, Hasil Audit Berkah Mart Dinanti
Warga Toboali Desak Kejari Bangka Selatan Bertindak Adil, Pengamanan Aset Seluruh Tersangka Korupsi Timah Jangan Tebang Pilih
Kesadaran Hukum Anak SMA di Ruang Siber: Transformasi Pendidikan Kewarganegaraan di Era Digital
Bang Doi, Pimpred Jejaring Media Radak.com Dipanggil Polda Babel, Diduga Terkait Upaya Damai Kasus Susut Kadar Emas
AMC BABEL APRESIASI DAN UCAPKAN TERIMAKASIH HAKIM DALAM KEPUTUSAN YANG SESUAI FAKTA DALAM KASUS Dr. Ratna
Cegah Sengketa Informasi Publik, KI Babel dan BPOM Pangkalpinang Perkuat Sinergi Tata Kelola Informasi

Berita Terkait

Jumat, 31 Juli 2026 - 08:45 WIB

PENOLAKAN HGU PT GML MENGUAT

Rabu, 29 Juli 2026 - 17:56 WIB

KI Babel Uji Komitmen Keterbukaan Informasi, Bawaslu dan Pemkab Bangka Jalani Visitasi Faktual E-Monev 2026

Rabu, 29 Juli 2026 - 08:56 WIB

Warga Toboali Desak Kejari Bangka Selatan Bertindak Adil, Pengamanan Aset Seluruh Tersangka Korupsi Timah Jangan Tebang Pilih

Minggu, 26 Juli 2026 - 22:12 WIB

Kesadaran Hukum Anak SMA di Ruang Siber: Transformasi Pendidikan Kewarganegaraan di Era Digital

Sabtu, 25 Juli 2026 - 07:11 WIB

Bang Doi, Pimpred Jejaring Media Radak.com Dipanggil Polda Babel, Diduga Terkait Upaya Damai Kasus Susut Kadar Emas

Berita Terbaru

Bangka Belitung

PENOLAKAN HGU PT GML MENGUAT

Jumat, 31 Jul 2026 - 08:45 WIB

Jakarta

Nuklir dan Hidrogen Siap Menopang Ketahanan Energi Nasional

Kamis, 30 Jul 2026 - 13:23 WIB