Oleh Muhamad Zen
Wartawan dan Pemerhati Kebijakan Publik
Alumni (UGM) Universitas Gunung Maras

“Pecaye Kite Pacak.” Dalam Bahasa Indonesia: Percaya Kita Bisa.
SEBUAH ungkapan sederhana dalam dialek Melayu Bangka, namun sarat makna. Ia bukan sekadar motivasi personal, melainkan ajakan kolektif, bukan “saya bisa”, tetapi “kita bisa”.
Optimismenya terasa hangat, terlebih di suasana Ramadan seperti sekarang bulan ketika harapan diperbanyak, kesabaran diperluas, dan doa-doa dilangitkan lebih khusyuk.
Sebagai warga Pangkalpinang, tentu kita ingin kalimat itu benar-benar menjadi ruh pembangunan. Siapa yang tak ingin percaya bahwa kota ini sedang berjalan ke arah yang lebih baik?
Namun izinkan saya, dengan penuh hormat sebagai alumni UGM—Universitas Gunung Maras menyampaikan sedikit tanya yang bersahabat, sambil menunggu waktu berbuka.
Keyakinan memang energi perubahan. Tapi dalam praktik pemerintahan, energi saja tidak cukup. Ia perlu kabel, saklar, dan tentu arah arus yang jelas. Listrik yang hanya berputar-putar tanpa tujuan, selain boros, juga membuat lampu tak kunjung menyala. Jangan sampai semangatnya terang, tapi hasilnya masih redup.
Percaya itu indah. Namun percaya bukan tombol yang bisa ditekan serentak melalui pidato atau slogan. Ia bukan instruksi administratif. Ia bukan pula imbauan resmi. Kepercayaan tidak pernah lahir karena diperintahkan apalagi dipaksakan. Ia tumbuh diam-diam, dari bukti yang konsisten. Dari kebijakan yang terasa dampaknya. Dari pelayanan yang makin mudah. Dari jawaban yang lugas, bukan sekadar kalimat yang menenangkan.
Dalam suasana Ramadan, kita belajar bahwa iman pun tidak bisa dipaksa. Ia hadir karena kesadaran dan keteladanan. Begitu pula kepercayaan publik. Jika kinerja nyata terlihat, transparansi dijaga, dan arah kebijakan jelas, maka rasa percaya itu akan tumbuh dengan sendirinya. Bahkan tanpa diminta, dukungan masyarakat akan mengalir seperti air sirup saat azan magrib berkumandang alami dan tanpa komando.
Masyarakat tentu tidak keberatan jika pembangunan harus pelan agar kokoh. Fondasi memang tidak dibangun terburu-buru. Namun warga tetap ingin tahu: ini sedang membangun fondasi, atau masih mencari gambar rencana? Karena dua-duanya sama-sama pelan, tetapi satu melahirkan harapan, yang lain melahirkan pertanyaan.
Kerja birokrasi memang sering berlangsung sunyi. Tidak semua proses perlu diumumkan setiap hari. Tetapi jika terlalu sunyi, publik bisa kebingungan. Dalam dunia jurnalistik, ketika data minim, tafsir akan rajin bekerja. Dan kita tahu, tafsir publik kadang lebih kreatif daripada tim penyusun program.
Kritik pun semestinya dipahami sebagai bagian dari partisipasi. Ia bukan gangguan, melainkan pengingat. Ibarat puasa, rasa lapar bukan musuh, melainkan tanda bahwa tubuh sedang berproses. Kritik juga begitu ia tanda bahwa masyarakat peduli. Jika setiap kritik dianggap “mencari celah” Kita hanya bisa tersenyum. Jika kebijakan diibaratkan tembok, kritik itu bukan bukan pahat untuk merobohkan, melainkan senter untuk melihat retaknya dimana. Sayangnya, senter sering disangka palu. Padahal niatnya bukan untuk memukul, hanya menerangi, walaupun kadang cahayanya sering membuat silau.
Kepercayaan publik itu seperti tabungan pahala Ramadan, dikumpulkan sedikit demi sedikit lewat konsistensi dan ketulusan. Jika terus diambil tanpa diisi, tentu akan terasa hampa. Tetapi jika diisi dengan kerja nyata, ia akan berlipat ganda.
Kemajuan kota memang bukan kerja satu orang. Ia adalah orkestrasi banyak pihak. Namun dalam setiap orkestra, tetap ada dirigen yang menentukan tempo. Jika iramanya belum sinkron, bukan berarti penontonnya salah dengar. Bisa jadi mereka hanya ingin memastikan lagu apa yang sedang dimainkan.
Keinginan publik sebenarnya sederhana, jika bicara arah kota kemana, mereka cukup ingin mendengar rutenya. Tidak perlu detail sampai titik koordinat, tapi setidaknya tahu perjalanan ini mau belok ke kanan, lurus atau masih memutar karena sopirnya masih sibuk berdiskusi dengan GPS.
Pada akhirnya, “Pecaye Kite Pacak” tetaplah semboyan yang baik. Ia akan semakin kuat jika disertai satu hal sederhana:
“Pacak kite jelaskan.” Karena percaya bukan berarti diam. Percaya justru lahir ketika keterbukaan dijaga dan akuntabilitas ditegakkan.
Kami ingin percaya. Sungguh. Tapi seperti musafir yang berpuasa di perjalanan, kami juga perlu tahu tujuan akhirnya di mana. Supaya sabarnya tidak sia-sia, dan perjalanannya tidak hanya mutar-mutar mencari jalan pintas.
Sebab pada akhirnya, percaya kita bisa itu indah. Namun akan jauh lebih indah ketika bukti berbicara, arah jelas terlihat, dan tanpa diminta pun masyarakat berkata dengan yakin:
“Ya, pecaye kite pacak.” Asal peta jalannya dibuka sedikit.













