PANGKALPINANG | Titahnusa.com — DI usia Provinsi Kepulauan Bangka Belitung yang memasuki 26 tahun, kegelisahan itu masih terasa di dada M. Subri, atau yang akrab disapa Bang Ucup. Sebagai salah satu tokoh Presidium Pembentukan Provinsi Babel, ia mengaku sedih melihat perjalanan pembangunan daerah yang menurutnya belum menunjukkan arah yang benar-benar kuat dan terukur.
Dalam wawancara bersama Titahnusa.com, Jumat (8/5/2026) di salah satu warkop di Pangkalpinang, Bang Ucup berbicara bukan sekadar sebagai pengamat, melainkan sebagai saksi sejarah lahirnya negeri ini. Ia mengingat bagaimana perjuangan panjang pemekaran dahulu dilakukan dengan harapan besar agar Bangka Belitung dapat berdiri sejajar dengan provinsi lain di Indonesia.
“Dulu kami berjuang memisahkan diri dari Sumatera Selatan bukan untuk gagah-gagahan memiliki provinsi sendiri. Ada harapan besar agar Babel bisa lebih cepat maju, anggaran pusat langsung turun ke daerah, dan masyarakat merasakan kesejahteraan,” ujarnya dengan nada penuh keprihatinan.
Bang Ucup mengingatkan, saat masih bergabung dengan Sumatera Selatan, tiga kabupaten/kota di Bangka Belitung hanya mengelola anggaran sekitar Rp100 miliar. Namun, keterbatasan itu justru mampu melahirkan pembangunan infrastruktur dan tata kelola daerah yang menurutnya lebih terasa manfaatnya bagi masyarakat.

Tokoh Pendiri Presidium Pembentukan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung
“Sekarang anggaran jauh lebih besar dibanding dulu, tetapi masyarakat justru bertanya-tanya ke mana arah pembangunan ini berjalan,” katanya.
Ia menyinggung kondisi fiskal Pemerintah Provinsi Babel yang menurutnya semakin berat. Jika pada masa Gubernur Erzaldi Rosman Djohan transfer pusat ke daerah masih berada di angka lebih dari Rp3 triliun, kini anggaran yang dikelola Pemprov Babel disebut hanya berkisar Rp2 triliun lebih. Dampaknya, berbagai kebijakan efisiensi harus dilakukan, termasuk pemotongan TPP ASN.
Menurutnya, kondisi tersebut seharusnya menjadi alarm keras bagi seluruh kepala daerah dan pejabat di Bangka Belitung untuk tidak terus bergantung pada transfer pusat semata.
“Bupati, wali kota, sampai kepala dinas harus mulai berpikir keras mencari peluang. Jangan hanya duduk nyaman menunggu dana pusat turun. Harus ada inovasi, harus ada keberanian menarik investor, harus ada kemampuan melobi kementerian supaya program-program pusat bisa dibawa masuk ke Babel,” tegasnya.
Bang Ucup kemudian mengenang perjalanan para pemimpin Babel sejak awal berdiri. Mulai dari masa kepemimpinan Amur Muhasin, dilanjutkan Hudarni Rani sebagai gubernur definitif pertama, kemudian Eko Maulana Ali, Rustam Effendi, Erzaldi Rosman Djohan, hingga kini dipimpin Hidayat Arsani.
Menurutnya, para gubernur terdahulu telah meletakkan pondasi pembangunan sesuai tantangan zamannya masing-masing. Namun ia menilai, tantangan terbesar saat ini adalah bagaimana memperkuat pondasi itu dengan gagasan baru dan langkah nyata.
“Pak Hidayat Arsani punya tugas besar. Bukan hanya menjaga apa yang sudah dibangun gubernur sebelumnya, tetapi harus mampu melanjutkan dan memperkuatnya dengan inovasi. Kalau tidak, Babel akan terus tertinggal,” ujarnya.
Nada kritik Bang Ucup semakin tajam ketika menyoroti kinerja birokrasi di lingkungan Pemprov Babel. Ia menilai banyak pejabat hanya menjalankan rutinitas administratif tanpa gagasan besar untuk membantu gubernur membawa daerah keluar dari stagnasi.
“Yang saya lihat hari ini, banyak pejabat hanya bekerja sebatas rutinitas. Minim ide, minim keberanian berpikir besar. Kepala OPD banyak yang tidak mampu menerjemahkan keinginan gubernur menjadi program nyata,” katanya.
Ia bahkan menyebut, tidak sedikit pejabat yang sebenarnya memiliki gagasan, namun tidak mampu mempresentasikan dan memperjuangkannya hingga menjadi kebijakan yang berdampak bagi masyarakat.
“Kalau pemimpin berjalan sendiri tanpa didukung orang-orang yang punya visi dan keberanian berpikir maju, maka pembangunan akan jalan di tempat,” tambahnya.
Di akhir wawancara, Bang Ucup berharap Bangka Belitung tidak kehilangan semangat perjuangan yang dulu melahirkan provinsi ini. Ia ingin seluruh elemen pemerintahan kembali menghidupkan semangat membangun daerah dengan keberanian, kreativitas, dan rasa memiliki terhadap masa depan Babel.
“Provinsi ini lahir dari perjuangan dan air mata. Jangan sampai generasi hari ini hanya menjadi penonton di negeri sendiri,” pungkasnya@Zen Adebi.













