Ketika Kas Daerah Kritis, Di Mana Inovasi Kepala Daerah?

- Redaksi

Senin, 18 Mei 2026 - 14:04 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

🙏 Ayo Dukung Jurnalisme Kritis dan Obyektif

Oleh: Muhamad Zen
Wartawan dan Pemerhati Kebijakan Publik Bangka Belitung

KONDISI fiskal Pemerintah Kota Pangkalpinang yang kini berada dalam status “alarm waspada” seharusnya menjadi evaluasi serius bagi pemerintah daerah, terutama kepala daerah sebagai pengambil kebijakan tertinggi.

Pernyataan Budianto Plh Sekda Pangkalpinang terkait ruang kas daerah yang hanya tersisa sekitar Rp6 hingga Rp10 miliar pada APBD Perubahan 2026 menunjukkan kondisi keuangan daerah sedang tidak baik-baik saja. Bahkan pemerintah mulai membahas penjualan lebih dari 100 rumah dinas guru demi menutup kebutuhan anggaran.

Pertanyaannya, apakah solusi pemerintah hari ini hanya menjual aset dan memangkas perjalanan dinas?

Data APBD Pangkalpinang 2026 menunjukkan ketergantungan daerah terhadap pemerintah pusat masih sangat tinggi. Dari total pendapatan daerah sebesar Rp806,85 miliar, sekitar Rp506,71 miliar atau 63 persen berasal dari dana transfer pusat. Sementara Pendapatan Asli Daerah (PAD) hanya sekitar Rp250,70 miliar atau 31 persen.

Di sisi lain, belanja pegawai justru mencapai Rp452,04 miliar atau sekitar 53 persen dari total belanja daerah sebesar Rp849,05 miliar.

Baca Juga :  Workshop Alat Berat BWS Babel Disorot: Berapa Uang Negara Digelontorkan?

Artinya, ruang fiskal pemerintah daerah untuk pembangunan, inovasi, dan program strategis menjadi sangat terbatas.

Publik tentu memahami bahwa banyak daerah terdampak efisiensi anggaran pusat. Namun persoalannya, jangan sampai kondisi ini terus dijadikan alasan tanpa diiringi upaya serius menciptakan sumber pendapatan baru.

Daerah yang kuat bukan daerah yang terus bergantung pada pusat, melainkan daerah yang mampu membangun kemandirian fiskal melalui inovasi, investasi, penguatan sektor jasa, UMKM, ekonomi kreatif, hingga optimalisasi aset daerah.

Sebagai kepala daerah yang menyandang gelar profesor, masyarakat tentu berharap lahir terobosan dan gagasan besar, bukan sekadar pengelolaan administrasi rutin.

Sayangnya, hingga hari ini publik lebih sering mendengar keluhan soal kas daerah menipis, PAD tidak tercapai, hingga rencana penjualan aset. Kesan yang muncul, pemerintah sedang sibuk bertahan, bukan mencari jalan keluar.

Kondisi ini juga membuat masyarakat mulai mempertanyakan realisasi berbagai janji politik yang sebelumnya disampaikan kepada publik. Program seragam sekolah gratis, bantuan modal usaha Rp5 juta per kepala keluarga, hingga janji sosial lainnya kini terasa semakin sulit diwujudkan di tengah kondisi fiskal yang kritis.

Baca Juga :  Praperadilan Alkes MOT Memanas, Kuasa Hukum: Barang Bukan Hilang, Sedang Diperbaiki

Sebab faktanya, untuk memenuhi kebutuhan rutin saja pemerintah mulai kesulitan.

Situasi ini harus menjadi momentum evaluasi besar. Masyarakat memilih pemimpin bukan hanya untuk menjelaskan masalah, tetapi menghadirkan solusi.

Karena jika pemerintah daerah terus bergantung pada dana pusat tanpa dibarengi inovasi peningkatan PAD, maka setiap kali pusat melakukan efisiensi, daerah akan selalu berada di ambang krisis.

Sudah saatnya Pemkot Pangkalpinang berhenti sekadar bertahan dan mulai membangun kekuatan ekonomi daerah secara mandiri.

Sebab jika tidak, yang perlahan habis bukan hanya aset daerah, tetapi juga kepercayaan publik.

 

_____________________

Catatan Redaksi:

Isi narasi opini ini sepenuhnya menjadi tanggungjawab penulis. Apabila ada pihak yang merasa dirugikan atau keberatan atas penyajian artikel ini, Anda dapat mengirimkan artikel atau berita sanggahan/koreksi kepada Redaksi kami, sebagaimana diatur dalam pasal 1 ayat (11) dan (12) Undang-undang No 40 Tahun 1999 tentang Pers.
Sanggahan dapat dikirimkan melalui email atau nomor whatsapp Redaksi sebagaimana yang tertera pada box Redaksi.

Follow WhatsApp Channel titahnusa.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Praperadilan Alkes MOT Memanas, Kuasa Hukum: Barang Bukan Hilang, Sedang Diperbaiki
Alkes MOT Rusak karena Gedung Banjir, Vendor Malah Jadi Tersangka? Kuasa Hukum Buka Praperadilan
Praperadilan Korupsi Alkes RSUP Babel Memanas, Kuasa Hukum Hendy: Mengapa Vendor Swasta yang Disasar?
Kasus Sewa Kios Pasar Bergulir, Suprapto Dikabarkan Dipanggil Lagi, Lalu Muzayyin Kapan?
Guru Natsir Mengaku Pernah Ilegal, Lalu Bagaimana dengan yang Berlindung di Balik Label Legal?
Heboh Dugaan Timah Belitung ke Bangka, Adit Bantah Truknya Bawa Biji Timah
Sewa Kios Dibayar, Tapi Masih Tercatat Menunggak, Nama Muzayyin Disorot
BWS Babel Diuji Transparansinya, TitahNusa.com Siapkan Sengketa Informasi

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊

Berita Terkait

Selasa, 15 September 2026 - 13:19 WIB

Praperadilan Alkes MOT Memanas, Kuasa Hukum: Barang Bukan Hilang, Sedang Diperbaiki

Senin, 14 September 2026 - 16:54 WIB

Alkes MOT Rusak karena Gedung Banjir, Vendor Malah Jadi Tersangka? Kuasa Hukum Buka Praperadilan

Senin, 14 September 2026 - 10:25 WIB

Praperadilan Korupsi Alkes RSUP Babel Memanas, Kuasa Hukum Hendy: Mengapa Vendor Swasta yang Disasar?

Minggu, 13 September 2026 - 11:59 WIB

Kasus Sewa Kios Pasar Bergulir, Suprapto Dikabarkan Dipanggil Lagi, Lalu Muzayyin Kapan?

Sabtu, 12 September 2026 - 18:48 WIB

Guru Natsir Mengaku Pernah Ilegal, Lalu Bagaimana dengan yang Berlindung di Balik Label Legal?

Berita Terbaru