Opini: Ulama, Amplop, dan Pertaruhan Nurani Demokrasi

- Redaksi

Selasa, 26 Agustus 2025 - 18:47 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

🙏 Ayo Dukung Jurnalisme Kritis dan Obyektif

Oleh: Muhamad Zen

PILKADA Ulang Kota Pangkalpinang 2025 baru akan digelar besok, Rabu 27 Agustus 2025. Namun, aroma busuk politik uang sudah lebih dulu menyergap ruang demokrasi kita. Ironisnya, kabar dugaan praktik money politic justru datang dari pasangan calon yang selama ini dielu-elukan sebagai “ulama” — sosok yang seharusnya menjaga marwah kejujuran, kini terseret isu amplop yang mempermalukan nurani demokrasi.

Kesaksian Ketua Partai Ummat Kota Pangkalpinang, Muhammad Ichsan Muttaqin, menjadi tamparan keras bagi publik. Ia mengaku ditawari dua amplop berisi Rp300 ribu dengan pesan jelas: memilih pasangan nomor urut 4, Basit–Dede. Bukti rekaman CCTV bahkan disiapkan, lengkap dengan saksi mata yang melihat langsung.

Apakah ini wajah politik kita hari ini? Dari mimbar yang semestinya menyeru keimanan, bergeser menjadi meja transaksi recehan?

Pertanyaan yang lebih mendasar: apakah hanya Basit–Dede yang bermain amplop? Atau jangan-jangan semua pasangan calon berlomba membeli suara rakyat, hanya berbeda metode dan nominal?

Baca Juga :  Diduga Keracunan Menu MBG, 6 Siswa MI Al Arifin Dilarikan ke Puskesmas

Di sinilah masyarakat Pangkalpinang harus jernih melihat. Dari empat paslon yang ada, apakah benar semuanya bersih dari praktik transaksional? Jangan sampai kita, rakyat, hanya dipandang sebagai komoditas, bukan pemegang kedaulatan.

Namun ada satu hal yang tidak bisa diabaikan: pasangan calon independen nomor urut satu, Eka Mulya Putra–Radmida Dawam. Sejak awal, dalam setiap orasi politiknya, mereka konsisten menyerukan penolakan terhadap politik uang. Mereka berdiri tanpa mesin partai, tanpa amplop tebal, hanya dengan keyakinan bahwa suara rakyat sejati tidak bisa dibeli.

Pilkada kali ini bukan sekadar ajang memilih wali kota. Ia adalah ujian harga diri warga Pangkalpinang. Apakah kita rela suara kita ditukar dengan dua lembar ratusan ribu? Atau kita memilih jalan yang lebih berat, tetapi bermartabat: menolak politik uang, dan memilih pemimpin dengan nurani bersih?

Baca Juga :  Disumpah Jadi Advokat, Adinda Putri Nabiilah Siap Dedikasikan Profesi untuk Masyarakat dan Pers

Demokrasi sejati tidak lahir dari amplop, melainkan dari komitmen. Dan hari ini, warga Pangkalpinang diberi kesempatan untuk menorehkan sejarah baru: membuktikan kepada Indonesia bahwa independen bisa menang, bahwa suara rakyat masih memiliki martabat.

Mari jadikan Pilkada Ulang 2025 bukan sekadar ritual lima tahunan, tetapi tonggak sejarah lahirnya kepemimpinan yang jujur, bersih, dan benar-benar berpihak pada rakyat.

———————–

Catatan Redaksi:

Isi narasi opini ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Apabila ada pihak yang merasa dirugikan atau keberatan atas penyajian artikel ini, Anda dapat mengirimkan artikel atau berita sanggahan/koreksi kepada redaksi kami, sebagaimana diatur dalam Pasal 1 ayat (11) dan (12) Undang-Undang No. 40 Tahun 1999 tentang Pers.
Sanggahan dapat dikirimkan melalui email atau nomor WhatsApp redaksi sebagaimana tertera pada box Redaksi.

Follow WhatsApp Channel titahnusa.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Diduga Keracunan Menu MBG, 6 Siswa MI Al Arifin Dilarikan ke Puskesmas
Dugaan Pungli CKHP/SKP di DLH Pangkalpinang, Petugas Kebersihan Diminta Rp500 Ribu
Disumpah Jadi Advokat, Adinda Putri Nabiilah Siap Dedikasikan Profesi untuk Masyarakat dan Pers
Kuasa Hukum Hendy Tantang Penyidik: MOT Dipersoalkan Korupsi, Mengapa Bukan Kerusakan Alat?
Saksi Polda Babel Dicecar Soal Perbuatan Hendy: “Korupsinya di Mana?”
Penyidik Polda Babel Perlu Menjawab, Bukan Sekadar Menetapkan Tersangka
Sebanyak 28 Advokat Baru PERADI Pangkalpinang Resmi Diangkat, Zul Armain Aziz Tekankan Integritas dan Kode Etik
MOT RSUD Soekarno Dipersoalkan di Praperadilan, Kuasa Hukum Hendy: Bukan Hilang, Modul Rusak Akibat Banjir

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊

Berita Terkait

Jumat, 18 September 2026 - 12:42 WIB

Diduga Keracunan Menu MBG, 6 Siswa MI Al Arifin Dilarikan ke Puskesmas

Jumat, 18 September 2026 - 10:51 WIB

Dugaan Pungli CKHP/SKP di DLH Pangkalpinang, Petugas Kebersihan Diminta Rp500 Ribu

Kamis, 17 September 2026 - 21:06 WIB

Disumpah Jadi Advokat, Adinda Putri Nabiilah Siap Dedikasikan Profesi untuk Masyarakat dan Pers

Kamis, 17 September 2026 - 17:08 WIB

Kuasa Hukum Hendy Tantang Penyidik: MOT Dipersoalkan Korupsi, Mengapa Bukan Kerusakan Alat?

Kamis, 17 September 2026 - 13:34 WIB

Saksi Polda Babel Dicecar Soal Perbuatan Hendy: “Korupsinya di Mana?”

Berita Terbaru