PANGKALPINANG | Titahnusa.com — DEMOKRASI di Kota Pangkalpinang kembali diuji. Pasangan calon nomor urut 4, Basit–Dede, yang selama ini dielu-elukan sebagian pendukungnya sebagai “ulama” dan “tokoh moral”, justru terseret dalam aroma busuk praktik politik uang.
Kisah ini terkuak dari pengakuan mengejutkan Ketua Partai Ummat Kota Pangkalpinang, Muhammad Ichsan Muttaqin (44). Senin (25/8/2025), pria yang seharusnya jadi mitra politik Basit–Dede itu, justru blak-blakan membongkar tawaran amplop berisi rupiah untuk memilih pasangan yang ia sebut telah “mengajari ketidakjujuran.”
Ichsan menuturkan, seorang perempuan bernama Sela (30), kader DPC Partai NasDem Pangkalpinang sekaligus bagian dari tim pemenangan Basit–Dede, mendatanginya di sebuah warung ayam bakar kawasan Pasir Garam. Sela datang bukan membawa pesan dakwah atau seruan moral, melainkan dua amplop lusuh berisi masing-masing Rp150 ribu.
“Totalnya Rp300 ribu. Tapi saya kembalikan. Saya berkomitmen menolak money politic,” tegas Ichsan, yang sekaligus menyatakan pencabutan dukungan Partai Ummat terhadap Basit–Dede.
Keputusan itu sontak mengguncang panggung politik. Betapa tidak, Partai Ummat awalnya adalah pengusung Basit–Dede. Namun justru dari dalam kubu sendiri, skandal politik uang ini terungkap.
Lebih getir lagi, Ichsan menyebut dirinya memiliki bukti rekaman CCTV serta dua orang saksi yang melihat langsung aksi transaksi politik di siang bolong itu. “Ini bukan sekadar pernyataan politik. Saya akan bawa kasus ini ke Bawaslu,” ujarnya.
Sayangnya, hingga berita ini diturunkan, Sela belum memberikan klarifikasi. Telepon wartawan tak dijawab, pesan singkat pun tak berbalas. Diam seribu bahasa, namun begitu konfirmasi akan terus diupayakan untuk mendapatkan perimbangan pemberitaan.
Publik kini hanya bisa menggelengkan kepala. Pasangan Basit–Dede yang selama ini menjual identitas keulamaan dan kesalehan, ternyata dicurigai terjebak dalam godaan amplop. Dari mimbar yang seharusnya menebarkan akhlak mulia, kini beralih menjadi panggung politik transaksional.
Jika Bawaslu benar-benar menindaklanjuti dan membuktikan dugaan ini, maka tak hanya amplop yang tercoreng, tapi juga moralitas politik yang selama ini dipamerkan Basit–Dede. Sebab, rakyat Pangkalpinang tentu tak ingin dipimpin oleh mereka yang bersandar pada rupiah, bukan pada nurani.
Demokrasi lokal kita sedang dicederai. Dan ironisnya, kali ini bukan oleh politisi pragmatis biasa, melainkan oleh mereka yang selama ini disanjung dengan sebutan “ulama.”(Red).













Komentar