Nuklir, Thorium, dan Hak Kita atas Masa Depan Energi Bersih

- Redaksi

Senin, 3 November 2025 - 15:36 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

🙏 Ayo Dukung Jurnalisme Kritis dan Obyektif

Oleh: Muhamad Zen — Wartawan dan Pemerhati Kebijakan Publik

PANGKALPINANG | Titahnusa.com INDONESIA memasuki fase krusial dalam sejarah energinya. Kebutuhan listrik meningkat, target emisi kian ketat, dan ketergantungan pada energi fosil sudah menekan keberlanjutan lingkungan serta ketahanan ekonomi. Transisi menuju energi bersih bukan lagi pilihan moral semata—melainkan mandat konstitusi, bagian dari hak warga atas lingkungan hidup yang sehat sebagaimana amanat Pasal 28H UUD 1945.

Di tengah perubahan lanskap global itu, nuklir termasuk teknologi thorium kembali muncul sebagai opsi strategis. Bayang-bayang Chernobyl dan Fukushima masih melekat, tetapi kemajuan teknologi, standar keselamatan IAEA, dan regulasi nasional membuat pendekatan hari ini jauh lebih siap dan terukur. Dunia tidak lagi memandang nuklir sebagai ancaman, melainkan salah satu tulang punggung menuju energi rendah karbon.

Namun keberhasilan kebijakan nuklir tidak ditentukan teknologi semata, melainkan transparansi, kesiapan lembaga pengawas, dan partisipasi publik. Energi bersih adalah hak rakyat, dan kebijakan energi adalah perintah moral negara untuk menghormati, melindungi, dan memenuhi hak itu dengan kehati-hatian ilmiah.

Baca Juga :  MA Tolak Kasasi Jaksa, Putusan Bebas dr Ratna Setia Asih Tetap Berlaku

Pulau Gelasa dan Peluang Energi Hijau Babel

Dalam konteks kedaulatan energi nasional, Bangka Belitung menyimpan peluang strategis. Pulau Gelasa digagas sebagai pusat PLTT berbasis thorium pemanfaatan mineral monazit, “limbah timah” yang ternyata menyimpan energi masa depan.

Jika teknologi ini diwujudkan, kontribusinya tidak kecil: listrik berbiaya 50–60 persen lebih murah daripada fosil, pengurangan emisi hingga 98 persen, dan lahirnya kawasan studi energi hijau yang membuka lapangan kerja serta transformasi ekonomi. Bangka Belitung tidak hanya keluar dari ketergantungan ekonomi ekstraktif, tetapi naik kelas menjadi simpul energi bersih Asia.

Lebih jauh, PLTT Gelasa adalah strategi geopolitik: mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor Middle Oil Product (MOP) dari Singapura dan mendorong reformasi kebijakan energi ASEAN dari konsumen menjadi produsen energi hijau.

Tiga Pilar Penguatan Kebijakan

Agar PLTT Gelasa tidak sebatas wacana, tiga pendekatan krusial diperlukan:

Baca Juga :  Efran dan M. Amir Buka Suara soal Laporan Tanah Bacang, Bantah Dugaan Gratifikasi

1. Teknokratik memastikan validitas sains, keselamatan, dan efisiensi, serta memasukkan PLTT 50 MW dalam Raperda energi daerah.

2. Partisipatif membangun penerimaan publik melalui dialog, bukan propaganda.

3. Kondusif menciptakan tata kelola yang stabil, transparan, dan berkelanjutan.

Jika ketiganya berjalan, Bangka Belitung bukan sekadar pelopor PLTN/PLTT Indonesia, tetapi model transisi energi yang menyatukan ilmu pengetahuan, kepentingan sosial, dan spiritualitas ekologis.

Akhir Kata

Transisi energi bukan perjuangan teknologi, tetapi perjuangan martabat. Tugas kita bukan memilih antara takut atau berani, melainkan memilih bijak; berjalan dengan sains tanpa mengabaikan suara rakyat.

Pulau Gelasa adalah momentum. Ketika “limbah” menjadi sumber cahaya dan pulau kecil menjadi laboratorium masa depan negeri, kita tidak sekadar menghasilkan listrik, kita sedang menulis bab baru kedaulatan Indonesia.

Energi bersih bukan utopia. Ia hak, ia masa depan, dan ia harus dimulai sekarang dengan keberanian, dengan integritas, dan bersama rakyat sebagai pusatnya.(Red)

Follow WhatsApp Channel titahnusa.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

MUSONG: Madu Langka Hutan Liar Bangka, Mengangkat Potensi Alam dan Kebanggaan Daerah
MA Tolak Kasasi Jaksa, Putusan Bebas dr Ratna Setia Asih Tetap Berlaku
Ketika OPD Sibuk Menghabiskan Anggaran di Akhir Tahun
Saksi MUI Babel Bicara Takdir Kematian di Sidang Aldo, Pertanyaan Medis Picu Adu Argumen Kuasa Hukum
Puluhan Eks Anggota Jamaah Islamiyah Dikumpulkan Densus 88 di Babel, Ini Agendanya
WC Taman Wilhelmina Cuma Satu, Malah Terkunci! Ini Penjelasan DLH Pangkalpinang
WC Umum Taman Wilhelmina Pangkalpinang Terkunci Saat Kegiatan Pemkot
Mitigasi Banjir Pangkalpinang: Jangan Tunggu Rumah Warga Jadi Kolam Renang

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊

Berita Terkait

Jumat, 30 Oktober 2026 - 08:41 WIB

MUSONG: Madu Langka Hutan Liar Bangka, Mengangkat Potensi Alam dan Kebanggaan Daerah

Rabu, 28 Oktober 2026 - 22:57 WIB

MA Tolak Kasasi Jaksa, Putusan Bebas dr Ratna Setia Asih Tetap Berlaku

Rabu, 28 Oktober 2026 - 08:40 WIB

Ketika OPD Sibuk Menghabiskan Anggaran di Akhir Tahun

Rabu, 28 Oktober 2026 - 08:18 WIB

Saksi MUI Babel Bicara Takdir Kematian di Sidang Aldo, Pertanyaan Medis Picu Adu Argumen Kuasa Hukum

Selasa, 27 Oktober 2026 - 19:10 WIB

Puluhan Eks Anggota Jamaah Islamiyah Dikumpulkan Densus 88 di Babel, Ini Agendanya

Berita Terbaru

Uncategorized

Jalan Babel Dipakai, Pajak Kendaraan Plat Luar ke Mana?

Kamis, 29 Okt 2026 - 22:59 WIB