Penulis: Muhamad Zen
Wartawan & Pemerhati Kebijakan Publik

DULU, alat Cath Lab di RSUD Depati Hamzah sempat menjadi buah bibir. Sebagian orang menganggapnya langkah berani, sebagian lain menilainya sebagai proyek ambisius dan ancaman seolah-olah kehadiran alat canggih untuk menangani pasien stroke dan jantung itu hanyalah “pesaing baru” bagi rumah sakit besar yang sudah lebih dulu memilikinya.
Suasana sempat panas. Ada yang berbisik di lorong, ada yang menulis status di media sosial, bahkan tak sedikit yang mempertanyakan, “Untuk apa RSUD Pangkalpinang punya alat semahal itu, bukankah sudah ada RSUP Babel?”
Ironisnya, waktu akhirnya membuktikan sesuatu yang lebih besar dari sekadar perebutan nama dan gengsi. Baru-baru ini, Cath Lab RSUD Depati Hamzah justru mencatat sejarah baru: tindakan Neurointervensi perdana dengan metode Cerebral Digital Subtraction Angiography (DSA) berhasil dilakukan dengan sukses.
Dan pasien pertamanya bukan siapa-siapa melainkan seorang dokter.
Ya, kehidupan kadang punya cara paling lembut sekaligus paling sarkastik dalam menampar kesombongan kita. Alat yang dulu diragukan, yang katanya tidak perlu, justru menjadi penyelamat nyawa seorang penyembuh. Seakan-akan Tuhan ingin menunjukkan, bahwa ilmu dan alat bukan untuk bersaing, melainkan untuk menyelamatkan manusia tanpa pandang baju dinas dan logo rumah sakit.
Bagi masyarakat Bangka Belitung, kehadiran Cath Lab ini ibarat oase di tengah padang tandus pelayanan stroke dan jantung. Tak perlu lagi menempuh perjalanan panjang ke Palembang atau Jakarta hanya untuk tindakan yang kini bisa dilakukan di Pangkalpinang. Tak perlu lagi menunggu nasib di antrean rujukan sambil menahan nyeri dan harapan.
Namun, euforia ini belum sepenuhnya lengkap. Sebab hingga kini, layanan Cath Lab RSUD Depati Hamzah belum bisa diakses oleh pasien BPJS Kesehatan.
Alasannya klasik: belum ada kerja sama, belum prioritas. BPJS menganggap sudah ada RSUP Soekarno Babel yang lebih dulu terintegrasi.
Pertanyaannya sederhana: Apakah keselamatan warga pangkalpinang dan sekitarnya bukan prioritas juga?
Padahal, jika prioritas kesehatan masyarakat benar-benar menjadi landasan, bukankah semakin banyak rumah sakit yang memiliki fasilitas seperti ini akan semakin memperluas kesempatan hidup bagi warga? Mengapa kita masih terjebak dalam ego lembaga dan hitung-hitungan kepentingan, sementara waktu menjadi musuh utama bagi pasien stroke?
Mari kita akui dengan jujur, kesehatan publik seharusnya tak mengenal kompetisi. Tak seharusnya rumah sakit negeri saling berebut pasien, apalagi dalam hidup dan mati. Karena pada akhirnya, yang sedang dipertaruhkan bukan reputasi lembaga, tapi detak jantung manusia yang bisa berhenti kapan saja.
RSUD Depati Hamzah sudah membuktikan diri, bukan dengan kata-kata, tapi dengan tindakan nyata. Sebuah tindakan medis yang menyelamatkan seorang dokter, dan mungkin nanti, ribuan nyawa lain yang membutuhkan pertolongan cepat.
Ironinya, banyak dari mereka mungkin harus menahan diri hanya karena status mereka “peserta BPJS.”
Di sinilah letak renungannya: ketika alat yang bisa menyelamatkan hidup justru terkunci oleh administrasi, siapa yang sesungguhnya sedang sakit, pasien, sistem, atau nurani kita?
Kita patut berterima kasih pada para tenaga medis RSUD Depati Hamzah yang telah berjuang membuktikan bahwa kerja keras dan dedikasi masih hidup di tengah birokrasi. Namun kita juga berhak berharap: agar kebijakan tak lagi menunggu logika pasar, melainkan mengikuti logika kemanusiaan.
Sebab pada akhirnya, persaingan rumah sakit bukanlah tentang siapa yang lebih hebat, tetapi tentang siapa yang lebih cepat menolong ketika hidup seseorang berada di ujung waktu.
Dan mungkin, bagi sebagian dari kita terutama yang dulu sempat menolak kehadiran alat itu, kisah ini menjadi pengingat lembut:
kadang, apa yang kita anggap saingan, justru adalah penyelamat yang Tuhan kirimkan dengan cara yang tak pernah kita duga.













