Dari Greenpeace ke Nuklir: Mengapa Pendiri Greenpeace Berubah Pikiran?

- Redaksi

Selasa, 30 Juni 2026 - 05:26 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

🙏 Ayo Dukung Jurnalisme Kritis dan Obyektif

JAKARTA | Titahnusa.com — SELAMA bertahun-tahun, Patrick Moore dikenal sebagai salah satu tokoh lingkungan hidup paling berpengaruh di dunia. Sebagai salah satu pendiri Greenpeace, ia berada di garis depan berbagai kampanye lingkungan internasional, mulai dari penolakan terhadap uji coba nuklir hingga perlindungan mamalia laut dari perburuan komersial.

Namun, seiring berjalannya waktu, Moore mengambil langkah yang mengejutkan banyak pihak: ia berbalik mendukung energi nuklir.

Perubahan pandangan tersebut tidak terjadi dalam semalam. Moore mengakui bahwa seperti banyak aktivis lingkungan lainnya, ia pernah memiliki ketakutan besar terhadap energi nuklir, terutama terkait limbah radioaktif dan risiko kecelakaan reaktor.

“Saya selalu takut terhadap limbah nuklir. Saya berpikir bahwa jika berada terlalu dekat dengannya, saya bisa mati. Tetapi secara intelektual, saya juga menyadari bahwa teknologi ini sebenarnya dapat bekerja dengan aman,” ungkap Moore dalam sebuah wawancara bersama politico.com pada 2008 silam.

Ketika isu perubahan iklim mulai mendapat perhatian global pada akhir 1980-an, Moore mulai mempertanyakan kembali sejumlah asumsi yang selama ini dipegang oleh gerakan lingkungan. Ia menilai bahwa dunia membutuhkan sumber energi bersih dalam skala besar untuk menggantikan bahan bakar fosil, dan energi nuklir merupakan salah satu solusi yang tidak dapat diabaikan.

Pandangan tersebut membuatnya berseberangan dengan banyak rekan lamanya di Greenpeace. Setelah meninggalkan organisasi itu pada 1986, Moore secara aktif mengampanyekan pemanfaatan energi nuklir sebagai bagian dari solusi menghadapi perubahan iklim.

Menurut Moore, tantangan utama yang dihadapi dunia saat ini bukan hanya menyediakan energi yang cukup, tetapi juga mengurangi emisi karbon yang menjadi penyebab utama pemanasan global. Dalam konteks tersebut, ia menilai energi nuklir memiliki keunggulan karena mampu menghasilkan listrik dalam jumlah besar tanpa menghasilkan emisi karbon selama proses pembangkitannya.

Baca Juga :  Kades se-Bangka Tengah Datangi PT Timah Tbk, Desak Inventarisasi dan Penciutan IUP Non-Produktif Demi Ketenangan Petani

“Siapa pun yang melihat kebutuhan energi modern secara realistis akan memahami bahwa energi nuklir harus menjadi bagian penting dari solusi perubahan iklim,” ujarnya.

Pandangan Moore tentu tidak diterima semua kalangan. Berbagai organisasi lingkungan tetap menolak pengembangan PLTN dengan alasan biaya pembangunan yang tinggi, persoalan pengelolaan limbah radioaktif, serta risiko keselamatan.

Meski demikian, Moore menilai sebagian penolakan terhadap energi nuklir berakar pada persepsi yang terbentuk selama era Perang Dingin. Menurutnya, banyak orang masih mencampuradukkan ancaman senjata nuklir dengan teknologi pembangkit listrik tenaga nuklir yang memiliki tujuan, desain, dan sistem pengamanan yang sangat berbeda.

Ia berpendapat bahwa kemajuan teknologi selama beberapa dekade terakhir telah meningkatkan standar keselamatan reaktor secara signifikan. Berbagai insiden besar yang pernah terjadi, seperti Three Mile Island, Chernobyl, dan Fukushima, justru menjadi pelajaran penting yang mendorong lahirnya sistem keselamatan yang jauh lebih ketat.

Perdebatan mengenai energi nuklir hingga kini masih berlangsung di berbagai negara. Namun satu hal yang tidak dapat dipungkiri adalah meningkatnya kebutuhan akan energi bersih yang stabil dan dapat diandalkan. Di tengah upaya global untuk mencapai target pengurangan emisi karbon, semakin banyak kalangan yang mulai mempertimbangkan kembali peran energi nuklir dalam bauran energi masa depan.

Belajar dari Moore

Kisah Patrick Moore menunjukkan bahwa diskusi mengenai energi nuklir tidak selalu terbagi secara sederhana antara kelompok lingkungan dan kelompok industri. Sebaliknya, perdebatan tersebut terus berkembang seiring munculnya tantangan baru, terutama kebutuhan untuk menyediakan energi yang cukup bagi dunia tanpa memperburuk krisis iklim.

Baca Juga :  LSM FAKTA Bongkar Dugaan “Proyek Siluman” BWS Babel: Papan Informasi Tak Terpasang, Lumpur Kerukan Dipersoalkan

Bagi Moore, mendukung energi nuklir bukan berarti meninggalkan perjuangan lingkungan hidup. Sebaliknya, ia meyakini bahwa energi nuklir merupakan salah satu instrumen yang diperlukan untuk melindungi lingkungan dari dampak perubahan iklim yang semakin nyata.

“Pertanyaannya bukan apakah kita menyukai energi nuklir atau tidak,” kata Moore. “Pertanyaannya adalah bagaimana kita menyediakan energi yang cukup bagi masyarakat modern sekaligus mengurangi emisi karbon secara signifikan.”

Pertanyaan yang sama kini relevan bagi Bangka Belitung. Di saat berbagai negara berlomba membangun industri masa depan berbasis energi bersih dan mineral strategis, provinsi ini justru berada di persimpangan penting. Bangka Belitung memiliki cadangan timah yang besar, potensi logam tanah jarang (LTJ) yang bernilai tinggi, serta posisi strategis untuk menjadi bagian dari rantai pasok industri teknologi dan energi masa depan.

Sementara daerah lain mulai bergerak mempersiapkan diri menjadi pusat hilirisasi dan industri berteknologi tinggi, Bangka Belitung masih sering terjebak dalam perdebatan yang didominasi ketakutan terhadap teknologi yang bahkan belum pernah dioperasikan di daerah ini. Tentu kehati-hatian tetap diperlukan, namun kehati-hatian tidak boleh berubah menjadi ketidakmauan untuk belajar dan mempertimbangkan peluang secara objektif.

Jika seorang pendiri Greenpeace yang selama puluhan tahun dikenal sebagai aktivis lingkungan hidup dapat mengubah pandangannya setelah mempelajari fakta dan perkembangan teknologi, maka masyarakat Bangka Belitung juga layak membuka ruang diskusi yang lebih rasional mengenai masa depan energi dan industri daerah. Sebab pada akhirnya, pertanyaan terpenting bukanlah apakah kita takut pada perubahan, melainkan apakah kita siap memanfaatkan peluang yang ada di depan mata. (KBO Babel)

Follow WhatsApp Channel titahnusa.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

BWS Babel Diuji Transparansinya, TitahNusa.com Siapkan Sengketa Informasi
Polemik Retribusi Pasar Pangkalpinang, Inspektorat Belum Terima Laporan
Data Mitra dan SPK Diminta Tak Kunjung Dijawab, ALMASTER Babel Desak PT Timah Patuhi UU KIP
Timgab URC Polda Babel-Polres Bangka Tengah Tangkap Pelaku Penipuan Bermodus Ngaku Polisi
TOPAN-RI Tantang Bea Cukai Buka-bukaan Soal Gudang Tuatunu: Dari Jumlah Rokok hingga Status Perkara
Polres Bangka Barat Gagalkan Penyelundupan 15 Balok Timah Di Pelabuhan, Begini Modusnya
Bukan Sekadar GBT! ALMASTER Desak Tricakti Buka Terang Barang Hasil Pengamanan, Gudang Titindo Kini Disorot
Dijuluki “Raja Sawer”, M.A. Anggota Komisi IX DPR RI Dilaporkan ke Dewan Kehormatan PAN

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊

Berita Terkait

Rabu, 9 September 2026 - 14:50 WIB

BWS Babel Diuji Transparansinya, TitahNusa.com Siapkan Sengketa Informasi

Sabtu, 5 September 2026 - 19:44 WIB

Polemik Retribusi Pasar Pangkalpinang, Inspektorat Belum Terima Laporan

Jumat, 4 September 2026 - 21:09 WIB

Data Mitra dan SPK Diminta Tak Kunjung Dijawab, ALMASTER Babel Desak PT Timah Patuhi UU KIP

Kamis, 3 September 2026 - 13:41 WIB

Timgab URC Polda Babel-Polres Bangka Tengah Tangkap Pelaku Penipuan Bermodus Ngaku Polisi

Selasa, 1 September 2026 - 15:41 WIB

TOPAN-RI Tantang Bea Cukai Buka-bukaan Soal Gudang Tuatunu: Dari Jumlah Rokok hingga Status Perkara

Berita Terbaru