PANGKALPINANG | Titahnusa.com — ADA yang tak biasa dalam Pawai Karnaval Mobil memperingati Hari Ulang Tahun ke-80 Republik Indonesia di Kota Pangkalpinang, Rabu (3/9). Di tengah deretan kendaraan hias yang meriah, sebuah mobil pick up dan tronton mencuri perhatian warga dengan dekorasi yang tak lazim namun penuh makna.
Mobil tersebut menampilkan sebuah amplop raksasa bertuliskan “Demokrasi Amplop”, simbol sindiran tajam terhadap praktik politik uang yang kerap terjadi menjelang pemilu. Tak hanya itu, di atas kendaraan juga terlihat sebuah instalasi menyerupai sosok “Demokrasi” yang sedang terbaring dan diinfus, menggambarkan kondisi demokrasi yang sedang “sakit keras” akibat serangan politik transaksional.

Kendaraan ini merupakan bagian dari aksi kreatif Tim Independen Merdeka, yang mengusung tema satire sebagai bentuk kritik terhadap realitas demokrasi lokal. Dalam aksi tersebut, mereka juga membagikan amplop-amplop kecil berisi uang mainan pecahan Rp50 ribu dan Rp100 ribu kepada penonton, sebagai simbol sindiran terhadap budaya “serangan fajar” yang masih menjadi momok dalam setiap gelaran pemilihan umum.
“Ini bentuk keprihatinan kami. Demokrasi tidak bisa dibeli. Tapi kenyataannya, setiap pemilu, amplop-amplop itu tetap ‘beredar’,” ujar Ridwan Adnan, Ketua Panitia Tim Karnaval, dengan nada getir.
Aksi ini pun tidak sekadar menjadi tontonan, tetapi menyentil kenyataan yang masih mengakar. Terlebih, baru-baru ini mencuat kabar bahwa ada salah satu tim sukses pasangan calon kepala daerah di Pangkalpinang tertangkap tangan saat diduga hendak membagikan uang kepada warga. Kasus tersebut kini sedang ditangani oleh Bawaslu Kota Pangkalpinang.
Partisipasi Tim Independen Merdeka menjadi pengingat bahwa di tengah gegap gempita perayaan kemerdekaan, masih ada pekerjaan rumah besar dalam menjaga integritas demokrasi. Bahwa kemerdekaan sejati bukan hanya tentang terbebas dari penjajahan fisik, tapi juga dari praktik-praktik yang membungkam suara rakyat.

“Merdeka itu bukan soal bebas dari penjajahan saja, tapi juga bebas dari amplop-amplop yang membungkam suara rakyat,” tutup Ridwan@ red.













