BANGKA BELITUNG | TitahNusa.com — PROGRAM GENCAR (Gerakan Nanem Cabe Rakyat) Tahun 2026 yang digagas Pemerintah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung sebagai strategi menekan inflasi akibat tingginya harga cabai mulai menuai sorotan publik. Program yang masuk dalam daftar prioritas Hidayat Arsani tersebut justru memunculkan persoalan serius pada tahap pelaksanaan teknis di lapangan.
Program GENCAR menargetkan pembagian 150 ribu bibit cabai gratis kepada masyarakat. Sekitar 100 ribu bibit dialokasikan untuk Kota Pangkalpinang, sementara sisanya disalurkan ke kabupaten lain di Bangka Belitung. Seluruh bibit diproduksi di Balai Benih Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Bangka Belitung yang berlokasi di Desa Air Buluh, Dusun Pelempang, Kabupaten Bangka Tengah.

Fakta Lapangan Tak Sejalan dengan Narasi Program
Di balik narasi besar ketahanan pangan dan pengendalian inflasi, temuan lapangan menunjukkan kondisi yang memprihatinkan. Berdasarkan hasil penelusuran TitahNusa, ribuan bibit cabai ditemukan dalam kondisi tidak sehat. Tanaman tampak layu, daun bagian atas keriting, sementara daun bagian bawah menguning—indikasi gangguan pertumbuhan sejak fase awal pembibitan.

Sejumlah sumber yang memahami teknis agronomi menyebutkan, kondisi tersebut diduga kuat dipicu media tanam yang tidak memenuhi standar, yakni terlalu padat dan tidak seimbang. Kondisi ini berpotensi menghambat perkembangan akar serta membatasi suplai oksigen, sehingga pertumbuhan bibit menjadi kerdil dan rentan mati.
Media Tanam Diduga Tak Sesuai Standar Teknis
Secara teknis, media tanam bibit cabai idealnya terdiri dari tanah gembur, kompos atau pupuk kandang matang, serta sekam bakar dengan perbandingan proporsional (misalnya 1:1:1 atau 3:2:1). Kompos harus difermentasi sempurna, tidak berbau menyengat, dan berada dalam kondisi “dingin” sebelum digunakan.
Namun, di Balai Benih, media tanam yang digunakan diduga berasal dari tanah mentah yang diambil dari luar dan dicampur tidak merata dengan kompos. Perbandingan yang timpang, lebih dominan tanah, membuat media keras dan tidak ramah bagi pertumbuhan akar. Selain itu, media tanam diduga langsung digunakan tanpa proses stabilisasi selama 1–2 minggu sebagaimana praktik pembibitan yang baik.

Simbolis Indah, Distribusi Dipertanyakan
Sorotan publik semakin menguat setelah ditemukan perbedaan kondisi bibit. Saat penyerahan simbolis program GENCAR oleh Pemprov, bibit yang ditampilkan terlihat sehat dan layak tanam. Namun sebagian bibit yang diterima masyarakat di luar seremoni simbolis justru dalam kondisi sebaliknya.

Situasi ini memunculkan pertanyaan serius mengenai mekanisme quality control dan potensi perlakuan berbeda antara bibit untuk kepentingan seremoni dengan bibit yang didistribusikan secara massal.

Konfirmasi Pejabat: Saling Lempar Kewenangan
Saat dikonfirmasi, Maryadi, yang disebut-sebut sebagai Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) dalam proyek GENCAR, menyampaikan jawaban singkat melalui pesan WhatsApp:
“Waalaikumsalam pak, terima kasih atas atensinya. Nanti kita atur waktu untuk ketemuan pak ya. Sebelumnya akan saya sampaikan kepada Pak Erwin selaku PPK-nya, saya hanya pelaksana teknis.”
Sementara itu, Yopi Wijaya, selaku Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Bangka Belitung, juga merespons singkat:
“Waalaikumsalam, nanti ke kantor aja Zen, kita ngobrolnya di kantor, terima kasih.”
Erwin, selaku Kepala Balai Benih, saat dikonfirmasi menjawab, “Waalaikumsalam”, jawabnya singkat. Hingga berita ini ditayangkan upaya konfirmasi kepada Gubernur Bangka Belitung Hidayat Arsani juga masih terus dilakukan.
Perlu Evaluasi Terbuka dan Pengawasan Ketat
Program GENCAR sejatinya memiliki niat mulia: menekan inflasi dan meringankan beban rumah tangga masyarakat. Namun tanpa pengawasan teknis yang ketat, keterlibatan tenaga ahli pertanian, serta transparansi dalam pelaksanaan, program strategis semacam ini berisiko melenceng dari tujuan awal dan menjadi sekadar proyek seremonial.
Pemprov Bangka Belitung didesak segera melakukan evaluasi terbuka, melibatkan ahli independen, serta memastikan seluruh proses pembibitan dan distribusi berjalan sesuai standar agronomis.
TitahNusa akan terus menelusuri dan mengawal persoalan ini sebagai bagian dari fungsi kontrol publik, agar kebijakan yang digulirkan benar-benar berpihak pada rakyat, bukan hanya tampak baik dalam laporan@Zen Adebi.













