Oleh:
Muhamad Zen
Wartawan dan Pemerhati Kebijakan Publik Bangka Belitung, Alumni Universitas Gunung Maras
PANGKALPINANG | Titahnusa.com — SAAT dompet daerah sedang menipis, setiap rupiah anggaran itu seperti beras di dapur: tak boleh disia-siakan. Maka perayaan satu tahun kepemimpinan Wali Kota Pangkalpinang Prof. Saparudin dan Wakil Wali Kota Dessy Ayutrisna di Taman Sari, Jumat malam ini, patut kita renungkan bersama.
Bukan melarang pemerintah bersenang-senang. Pemimpin juga manusia, bukan kalkulator yang lupa cara tersenyum. Tapi wajar kalau masyarakat bertanya: saat banyak yang masih menunggu, apakah pesta ini sudah pantas? Bukan tuduhan boros, sekadar tanya: dari mana dan untuk apa uangnya dipakai? Kalau jelas, masyarakat pasti mengerti. Kalau tertutup, yang muncul cuma curiga.
Intinya sederhana: prioritas dan rasa pantas. Seperti rumah tangga: saat penghasilan menurun, kita tetap boleh syukuran. Tapi menu jangan sampai lebih mahal dari uang belanja esok hari. Jangan tamu pulang tersenyum, lalu tuan rumah makan singkong sambil menghitung sisa koin.
Pemerintah pun begitu. Masyarakat butuh pesta yang bermakna, bukan pesta yang meriah. Butuh hasil yang nyata, bukan cuma foto yang bagus.
Refleksi Bukan Menghitung Tahun Jabatan
Satu tahun itu waktu yang pas untuk jujur pada diri sendiri: apa yang sudah selesai? Apa yang tertunda? Apa yang perlu diperbaiki?
Sekolah dibangun, bantuan diberikan tentu patut diapresiasi. Tapi keberhasilan tak cuma diukur dari apa yang tampak di kamera. Masyarakat ingin rasakan sendiri: pelayanan makin gampang? Jalan makin mulus? Usaha makin berjalan lancar? Uang rakyat dikelola makin tertib?
Karena warga tak hidup di atas panggung. Mereka hidup di pasar, di jalan, di loket pelayanan, dan di sekolah. Refleksi bukan laporan kegiatan yang makin tebal. Refleksi adalah jujur mengatakan: ini yang sudah berubah, ini yang belum, dan ini yang sedang kita perbaiki. Jangan sampai laporan makin tebal, tapi keluhan warga tetap sama persis seperti tahun lalu.
Bukan menyalahkan siapa-siapa. Sekadar ingat: rapi di atas kertas belum tentu terasa di kehidupan nyata.
Udin-Dessy Masih Punya Waktu Tapi Janji Tetap Harus Diingat
Satu tahun itu belum lama. Membangun kota bukan masak mi instan yang siap dalam tiga menit. Masalah keuangan, jalan, pelayanan, semua butuh waktu. Program parkir digital yang baru saja dimulai, layak diberi kesempatan. Tapi ingat: peluncuran itu mudah, yang penting hasilnya. Apakah parkir digital bikin makin tertib? Uang masuk makin jelas? Warga makin gampang? Kalau iya, teruskan. Kalau belum, perbaiki.
Kita juga ingat janji kampanye: mencari sumber pendapatan baru supaya pendapatan daerah naik. Semoga yang makin banyak masuk ke kas daerah, bukan yang makin banyak keluar tanpa penjelasan. Dan yang paling penting: cari uangnya yang benar, jangan malah membebani rakyat kecil.
Memberi kesempatan bukan berarti memberi cek kosong. Bertanya bukan berarti tak mendukung. Kita mau kota ini maju bersama. Beda pendapat itu biasa, asal tujuannya sama: Pangkalpinang yang lebih baik.
Waktu Bertambah, Kemajuan Juga Harus Ikut Bertambah
Satu tahun belum cukup, dua tahun masih belajar tidak masalah. Tapi kalau sampai akhir masa jabatan belum ada yang terasa, lalu minta satu periode lagi untuk menyelesaikannya? Itu pertanyaan yang layak kita simpan di hati.
Waktu memang dibutuhkan, tapi waktu sendiri tak membangun apa-apa kalau tidak ada kerja. Jangan tahun pertama kenalan sama masalah, tahun kedua pelajari masalah, tahun ketiga bahas masalah, tahun keempat rapat jadwal mulai kerjakan masalah. Kalau begitu, bukan kurang waktu kurang keinginan untuk mulai.
Jam terus berjalan, tak menunggu notulen selesai diketik. Setiap tahun harus ada kemajuan, sekecil apa pun yang bisa dirasakan, bukan cuma dibacakan.
Kritik Adalah Kawan, Bukan Lawan
Sebagai wartawan, saya melihat kritik bukan untuk menjatuhkan. Kritik yang jujur justru membantu pemimpin melihat apa yang terlewat. Pemerintah tak perlu merasa setiap pertanyaan itu serangan. Kadang pertanyaan yang tak nyaman justru menyelamatkan dari kesalahan yang lebih besar.
Kalau biaya acara memang pantas, jelaskan. Kalau program belum berhasil, katakan apa kendalanya. Kalau ada yang salah, perbaiki. Tak ada pemerintahan yang sempurna. Tapi yang mau mendengar dan berubah, akan selalu mendapat dukungan rakyat.
Semoga Udin-Dessy terus bekerja, dan setiap rupiah dirawat seperti uang sendiri. Karena pertanyaan paling sederhana dan paling penting hanya satu: setelah satu tahun ini, apa yang sebenarnya berubah bagi warga?
Tanyakan pada pedagang pasar, pelaku UMKM, pekerja harian, dan siapa pun yang berurusan dengan pemerintah. Dengarkan jawaban mereka dengan jujur. Kalau ada kemajuan, akui. Kalau kurang, jadikan pijakan untuk lebih baik.
Rakyat tak menuntut perubahan dalam semalam. Mereka cuma ingin tahu: hari ini sedikit lebih baik dari kemarin, dan besok ada harapan yang masuk akal.
Perayaan boleh meriah. Tapi hasil kerjalah yang seharusnya jadi alasan kita bertepuk tangan.
Lampu panggung boleh menyala terang semalam saja. Tapi yang jauh lebih penting: bagaimana pemerintah menerangi jalan masa depan kita semua.
Dan sedikit pesan sederhana ala kampus kami: pemimpin hebat bukan yang bikin rakyat bertepuk tangan keras-keras. Pemimpin hebat adalah yang bikin warga sambil lewat, mengangguk dan berkata: “Nah, ini yang kami harapkan.”
Itulah refleksi sesungguhnya. Bukan soal siapa paling benar. Tapi bagaimana kita berjalan bersama menuju Pangkalpinang yang makin baik.
Kritik boleh terasa tajam, tapi tujuannya tak melukai. Ia sekadar mengingatkan: yang perlu kita perbaiki bukan cuma tata letak panggung tapi cara kita membangun kota ini.
Muhamad Zen
Wartawan dan Pemerhati Kebijakan Publik Bangka Belitung
Alumni Universitas Gunung Maras













