Tragedi Kurau: Enam Pelajar Diseret, Dipukuli, hingga Di-smackdown oleh Oknum Aparat Polisi Bangka Tengah

- Redaksi

Sabtu, 13 September 2025 - 16:54 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

🙏 Ayo Dukung Jurnalisme Kritis dan Obyektif

BANGKA TENGAH | titahnusa.com – MALAM di Desa Kurau, Kabupaten Bangka Tengah, berubah mencekam. Enam anak di bawah umur, sebagian besar masih berseragam sekolah, menjadi korban kekerasan brutal yang diduga dilakukan oleh tiga oknum anggota kepolisian setempat. Peristiwa ini mengejutkan masyarakat dan menorehkan luka mendalam di hati para keluarga korban. Sabtu (13/9/2025).

Menurut kesaksian AL (16), salah satu korban, kejadian bermula dari candaan sederhana. Ia dan teman-temannya melemparkan kembang api, tanpa niat mengganggu siapa pun. Namun, letupan kembang api yang jatuh di jalan memicu amarah tiga oknum aparat.

“Kami niatnya bercanda, bukan mau melempar mereka,” ungkap AL lirih.

Amarah pun meledak. Tanpa peringatan, tiga oknum aparat itu mengejar para remaja dengan kasar. “Kami langsung dipepet, tangan saya ditarik, lalu saya dipukul,” kata AL sambil menahan perasaan.

Tidak berhenti di situ, para korban diseret ke sebuah gang sempit yang gelap, jauh dari pandangan warga. Di tempat itulah kekerasan berlangsung. Para remaja dipukuli, dihina, bahkan dipaksa untuk menghubungi teman-teman mereka agar ikut datang.

Baca Juga :  Dugaan Penipuan Sewa Excavator Sunarwi Petani Simpang Perlang Lapor Polisi

Ancaman bernada teror dilontarkan: jika kawan mereka tidak kembali, maka akan ada konsekuensi lebih berat.

Ketika kawan-kawan AL tiba, bukannya menerima penjelasan, mereka justru ikut menjadi sasaran kekerasan. “Kawan saya dicekik, ditampar, bahkan di-smackdown,” kenang AL, suaranya bergetar.

Bagi enam remaja tersebut, malam itu berubah menjadi neraka kecil. Pukulan, tendangan, dan makian seakan tiada henti, seolah tubuh-tubuh belia itu dijadikan pelampiasan amarah.

Situasi baru mereda ketika Kepala Desa setempat datang dan melerai. Kehadirannya bagai cahaya di tengah gelap, menyelamatkan para korban dari kekejaman yang tidak semestinya mereka alami.

Meski fisik mereka terluka, luka psikologis yang dialami jauh lebih dalam. Rasa takut, trauma, dan ketidakpercayaan terhadap aparat hukum kini membayangi mereka.

“Kami hanya anak-anak, tapi diperlakukan seperti penjahat,” ucap seorang korban lain dengan nada getir.

Baca Juga :  Menko Polkam Dudung Soroti Emosi Anggota Polri Pasca Peristiwa Tembak Sesama di Pondok Cabe

Hingga berita ini diturunkan, pihak kepolisian Bangka Tengah maupun Polda Kepulauan Bangka Belitung belum memberikan keterangan resmi terkait dugaan penganiayaan ini.

Redaksi KBO Babel telah berupaya mengkonfirmasi Kapolres Bangka Tengah dan Kapolda Kep. Babel sebagai bentuk keseimbangan pemberitaan (cover both side), namun belum mendapat respons.

Kasus ini menjadi alarm keras bagi penegakan hukum di daerah. Aparat yang seharusnya melindungi, justru dituding melukai. Kekuasaan tidak boleh digunakan untuk menindas, apalagi terhadap anak-anak yang masih belia.

Masyarakat kini menanti langkah tegas dari kepolisian untuk mengusut tuntas peristiwa ini. Jika tidak, kepercayaan publik terhadap institusi penegak hukum akan semakin tergerus.

Luka fisik para korban mungkin bisa sembuh, tetapi trauma psikologis mereka akan menjadi bayangan panjang yang sulit terhapus. Tragedi Kurau adalah peringatan, bahwa tanpa pengawasan dan akuntabilitas, kekuasaan bisa berubah menjadi senjata yang melukai rakyatnya sendiri. (Sumber: KBO Babel)

Follow WhatsApp Channel titahnusa.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Polda Babel Permudah Akses Pelayanan Masyarakat Melalui Hotline 110 dan Whatsapp Kapolda
Kurang dari 24 Jam, Pelarian Pelaku Penembakan Di Toboali Berakhir Di Pelabuhan Tanjung Kalian
MA Tolak Kasasi Jaksa, Putusan Bebas dr Ratna Setia Asih Tetap Berlaku
Polda Babel Gelar Sosialisasi di IAIN Babel, Ajak Mahasiswa Jadi Agen Anti Judol-Penipuan Digital
WC Taman Wilhelmina Cuma Satu, Malah Terkunci! Ini Penjelasan DLH Pangkalpinang
Wakapolda Babel Jadi Pembina Upacara di SMPN 1 Belitung, Beri Pesan Bijak Bermedsos-Cegah Perundungan
Polda Babel Gelar Apel Pasukan, Operasi Patuh Menumbing 2026 Resmi Dimulai
Wakapolda Babel Turun ke Jalan Atur Lalin di Simpang Rahat Belitung

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊

Berita Terkait

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 07:41 WIB

Polda Babel Permudah Akses Pelayanan Masyarakat Melalui Hotline 110 dan Whatsapp Kapolda

Kamis, 29 Oktober 2026 - 13:20 WIB

Kurang dari 24 Jam, Pelarian Pelaku Penembakan Di Toboali Berakhir Di Pelabuhan Tanjung Kalian

Rabu, 28 Oktober 2026 - 22:57 WIB

MA Tolak Kasasi Jaksa, Putusan Bebas dr Ratna Setia Asih Tetap Berlaku

Rabu, 28 Oktober 2026 - 15:59 WIB

Polda Babel Gelar Sosialisasi di IAIN Babel, Ajak Mahasiswa Jadi Agen Anti Judol-Penipuan Digital

Selasa, 27 Oktober 2026 - 18:47 WIB

WC Taman Wilhelmina Cuma Satu, Malah Terkunci! Ini Penjelasan DLH Pangkalpinang

Berita Terbaru